Cari Blog Ini

Kamis, 19 Juli 2012

5 Trik Menghadapi Suasana Kantor Yang Kurang Harmonis


Ilustrasi (Foto: Romy Palar/NOVA)
Menghadapi suasana kantor yang kurang harmonis, atasan dan bawahan saling tuding, intrik-intrik yang kian meruncing, pasti membuat serba salah. Tak enak hati dengan kelompok A saat diajak makan siang oleh kelompok B, khawatir dianggap tak toleran bila tak ikut kelompok B. Atau selalu merasa dicurigai saat berusaha menjalin komunikasi dengan kelompok lain, persaingan di kantor kian tak sehat, dan suasana rapat kerap saling menjatuhkan. Inilah risiko yang terjadi ketika gap atau jarak komunikasi antar kelompok terlalu jauh. 
Bukan hanya Anda yang merasakan dampaknya, perusahaan juga ikut mengalami kerugian. Gap yang terjadi dalam organisasi, menurut Anny Nursani, konsultan sumber daya manusia dari Iradat Konsultan, merupakan masalah yang bisa terjadi, baik di organisasi berskala besar yang melibatkan banyak divisi dan tim kerja, maupun skala kecil. Sayangnya, tak semua orang siap disuguhi intrik dan gap yang terjadi di kantor. 
Beberapa bahkan akan merasa tak betah di kantor. Atau menghindari berada di kantor terlalu lama dan mencari alasan untuk sibuk sendiri. Akhirnya produktivitas menurun, karena kerja tim tak solid. Sulit berinovasi, selalu ada sikap saling curiga, dan tak percaya satu sama lain. Nah, jangan berdiam diri atau membiarkan perusahaan yang Anda cintai hancur karena masalah gap! Masih ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.


1. Tingkatkan Percaya Diri
Menghadapi kesenjangan komunikasi antar kelompok di perusahaan bukan berarti hanyut pada aturan main yang terlanjur ada. Saran Anny, tetap netral dan kembangkan sikap profesional dalam bergaul. Fungsikan diri secara optimal, meski berada di pihak netral. Sayangnya, seringkali tak sanggup mempertahankan sikap profesional atau netral, karena berbagai sebab. Misalnya, sebagai orang baru di antara orang-orang lama, merasa jadi kelompok marjinal yang didominasi kelompok superior, khawatir dipersulit dalam pekerjaan, dan lainnya. Berbagai sebab ini membuat pilihan jadi sulit. Namun, bukan berarti Anda tak bisa melakukan perubahan. Jangan berkecil hati. Keyakinan diri yang tinggi akan meringankan langkah untuk berbuat sesuatu di lingkungan kerja tanpa kenal lelah.



2. Berpikir Positif
Masalah gap di kantor pada dasarnya dipicu masalah komunikasi. Hal ini menjadi serius ketika para karyawan tak cukup terbuka dan menerima perbedaan yang ada, sehingga timbul sekat sosial.Lama-lama, perbedaan ini kian meruncing dan menimbulkan ketidaknyamanan. Jangan larut dalam suasana carut marut! Tetaplah berpikir positif. Sehingga selalu merasa mampu menghadapi kondisi apapun.Sikap positif juga bisa ditularkan ke orang lain, sehingga bisa mengurangi energi negatif yang terlanjur dominan. Perlahan-lahan, suasana akan cair dan kembali harmonis, dengan menurunkan level kecurigaan. Pikiran dan sikap positif adalah solusi tepat untuk membangun jembatan komunikasi antar kelompok. Untuk menularkannya, bisa manfaatkan kesempatan informal, seperti saat istirahat makan siang atau bertandang di kubikel rekan kerja.


3. Optimis
Akan melelahkan jika suasana tak kunjung membaik. Hindari bersikap pasif menghadapi gap di kantor. Memang, pada kasus perusahaan yang dimiliki keluarga, akan sulit mengupayakan perbaikan. Namun, bukan berarti perubahan mustahil terjadi. Bersikap pasif hanya akan menjebak Anda dalam pikiran negatif dan jadi pesimis. Kembangkan sikap proaktif dan jangan mengecilkan arti diri di lingkungan kerja. Tetaplah berpikir, Anda punya cukup arti bagi perusahaan dan masalah pasti ada solusinya. Intinya, asal ada kemauan, masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk membuat segalanya jadi lebih baik.


4. Berpikir Terbuka
Meski berada di pihak netral dan tak terlibat intrik, tetaplah berpikir terbuka, menerima kritik, dan masukan. Orang yang terbuka akan lebih mudah diterima masukannya ketimbang orang yang sulit menerima masukan orang lain. Berbagai kritik, masukan, keluhan, dan saran yang disampaikan kepada Anda bisa menjadi modal solusi ke depan. Dengan selalu berpikir terbuka, Anda bisa menularkan sikap ini untuk membuka komunikasi antar kelompok yang berseberangan. “Biasanya gap juga disumbang dari ketidakterbukaan dalam menerima perbedaan. Padahal, perbedaan seharusnya diterima sebagai identitas yang dimiliki seseorang, bukannya diseragamkan,” ujar Anny.


5. Jangan Asal Mengadu!
Tetaplah realistis menghadapi gap di kantor. Jika ingin mengupayakan perubahan, penting ditanamkan untuk tak berharap terlalu tinggi. Cukup lakukan yang bisa dilakukan, untuk menghindarkan rasa kecewa. Anda bisa mulai dari rekan terdekat dengan mencoba bergabung saat istirahat makan siang dengan kelompok A, B, maupun C. Apalagi jika Anda orang baru di kantor. Bukan untuk masuk dan menjadi bagian kelompok itu, tapi sebagai upaya untuk bisa menularkan hal-hal baik. Jika jengah dengan situasi yang ada, Anda boleh mengadu. Tapi jangan sembarang mengadu! Anda bisa bicara kepada teman yang bisa dipercaya untuk mendapatkan masukan. Namun, saran Anny, jika cukup profesional, adukan masalah yang ada ke atasan langsung. Tapi jangan langkahi atasan, karena akan menimbulkan gap baru. Jika upaya itu tak banyak membuahkan hasil, cobalah bicarakan ke bagian HRD. Anda juga bisa mengupayakan perubahan dengan menularkan budaya organisasi yang baik, seperti kesetaraan. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Menurut Anny, cara ini biasanya akan sulit dan makan waktu lama, mengingat budaya itu sudah terbentuk amat lama. Apapun yang akan Anda lakukan, tetaplah berpijak pada prinsip berpikir positif dan tekun mengupayakan perubahan.


Laili Damayanti
http://www.tabloidnova.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar