Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Dunia Kerja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia Kerja. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juli 2012

7 Rambu-Rambu Berbicara Pada Atasan

Foto: Dok. NOVA
Percaya atau tidak, bila tak hati-hati berkata, karier bisa terancam. Nah, sebaiknya pahami rambu-rambu berbicara pada atasan dan simak tipsnya! Sebaik apapun hubungan Anda dengan Atasan, tetap saja ada batas-batas yang tak boleh dilanggar. Salah satu yang mesti diingat, adalah etika ketika berbicara dengan atasan. Meskipun Anda merasa memiliki hubungan yang akrab dan spesial, hierarki dalam perusahaan tetap mengharuskan Anda menunjukkan rasa hormat kepada atasan.
1. "Saya benar-benar harus bicara dengan Anda. Ini Penting!"
Mungkin Anda merasa tak ada yang salah dengan perkataan tadi, mengingat hal yang akan dikemukakan menyangkut kepentingan pekerjaan yang amat penting. Kendati demikian, mengatakan kalimat ini kepada atasan dapat berkesan Anda sudah menganggap sepele orang lain, sementara Anda memiliki urusan yang lebih penting dengan atasan. Bahkan berkesan Anda berhak mendapatkan perhatian secara individual dari atasan, karena merasa termasuk ke dalam orang penting di perusahaan. Padahal, di era modern yang serba cepat dan kompleks ini, para manajer juga atasan memiliki waktu yang semakin sempit untuk dapat melayani anak buah secara individual. Sebaiknya, jika ingin mengemukakan sesuatu pada atasan, jelaskan maksud topik pembicaraan sejak awal. Setelah atasan menyatakan akan memberikan waktunya untuk berbicara secara personal, barulah Anda dapat mengungkapkan hal-hal penting yang ingin disampaikan.

2. "Saya tak perlu orang lain untuk mengajari saya."
Terkadang, sadar atau tidak Anda telah mengatakan hal-hal yang tidak patut dikatakan di dalam lingkungan kerja. Salah satunya mengatakan, Anda bisa melakukannya sendiri tanpa perlu diajari lebih dahulu oleh atasan pada divisi atau perusahaan yang baru saja dimasuki. Meski Anda sudah berpengalaman di bidang ini, tak ada salahnya mendengarkan langkah-langkah yang dijelaskan oleh perusahaan atau atasan. Jika Anda menampik arahan ini dengan perkataan seperti di atas, tentu akan menimbulkan kesan tidak menyenangkan. Dengan berpikir, Anda sudah amat ahli dalam suatu pekerjaan dan seolah-olah tak perlu lagi belajar ulang sesuai konteks perusahaan, hanya akan membuat atasan mengabaikan kesulitan yang mungkin Anda temui kelak.

3. "Saya tidak mengerti."
Sekalipun Anda mendapati kesulitan ketika mengikuti salah satu program yang diadakan perusahaan, tetaplah menjadi sebuah kesalahan bila di dalam job training lalu Anda mengungkapkan ketidakmengertian secara naif. Di dalam sebuah perusahaan, pasti memiliki standar pegawai yang diharapkan sesuai syarat kelulusan dari suatu job training. Seseorang yang terus menerus butuh instruksi dalam job trainingtentu akan mempengaruhi performan dalam penyelesaian tugas. Di mata atasan hal semacam ini akan menurunkan nilai kepantasan yang dimiliki karyawan tadi, kendati Anda sebenarnya memiliki nilai lebih dari yang diasumsikan terhadap kinerja Anda.

4. "Bisakah Anda Ulangi?"
Adalah satu pelanggaran jika Anda terus menerus meminta atasan mengulangi instruksi yang sudah diberikan. Kalimat ini mengindikasikan Anda kurang peduli atau tak menghargai apa yang sudah atasan katakan. Sebaiknya, coba ikuti dahulu instruksi selanjutnya, atau tanyakan kepada rekan kerja yang lain. Cara ini jauh lebih baik daripada buru-buru meminta atasan mengulang lagi instruksi yang sudah diberikan.

5. "Sebenarnya, saya tak pernah memahaminya"
Terkadang kesempatan mendapatkan promosi bisa terancam batal akibat sebuah perkataan yang Anda lontarkan. Misalnya mengatakan, Anda tidak memahami penjelasan atasan yang terdahulu. Setelah Anda terbukti tak melakukan pekerjaan yang diinstruksikan, Anda baru mengakui sebenarnya tak paham instruksi itu sejak awal. Ingat, seorang karyawan yang tidak bisa diandalkan akan selalu diingat dan dicap oleh atasan, terutama pada saat evaluasi atau mendapatkan promosi.

6. "Maaf, itu bukan deskripsi kerja saya!"
Banyak perusahaan menekankan pentingnya kerjasama (team work) dan fleksibilitas tinggi yang dimiliki karyawan. Setiap orang perlu melakukan bagiannya. Namun, kadangkala juga perlu melakukan pekerjaan di luar tugas-tugas harian atau mendapatkan tugas dadakan. Kecuali jika tugas yang atasan berikan sama sekali tak ada kaitannya dengan divisi Anda, sebaiknya tanamkan dalam pikiran, "Tidak ada yang tak bisa dilakukan di perusahaan masa kini!" Jadi, lakukan sebaik yang Anda bisa, meski awalnya terlihat mustahil dilakukan.
7. "Jangan salahkan saya! Itu bukan salah saya!"
Menyalahkan orang lain untuk menutupi kesalahan Anda, bisa jadi mudah diketahui oleh atasan. Ini akan menunjukkan kepada atasan, perilaku ini bukan saja membuat Anda tak bisa diandalkan, tetapi juga terkesan menipu. Sebaiknya, hindari jauh-jauh mengungkapkan kalimat ini, karena akan sangat mempengaruhi performa kerja Anda. Dan tentunya akan sangat mempengaruhi saat evaluasi atau datangnya promosi kelak.

Kamis, 19 Juli 2012

3 Hal Yang Harus Dihindari Bila Menjalin Asmara di Tempat Kerja


Menemukan kekasih di tempat kerja bukanlah sesuatu yang mustahil. Yang perlu Anda disadari, berpacaran dengan rekan sekantor perlu taktik tersendiri. Sebelum memutuskan menjalin asmara di kantor, simak tiga hal yang sebaiknya Anda hindari.
1. Atasan dan Bawahan
Kita semua tahu, percintaan antara atasan dan bawahan merupakan kesalahan besar. Bila terdapat perbedaan yang terlalu besar pada status dari orang-orang yang terlibat, maka masalah akan timbul. Tidak hanya masalah suka atau tidak suka atau adanya anak emas, tetapi masalah dendam dan benci akan timbul. Bila bos dan bawahannya memiliki hubungan istimewa, maka akan menimbulkan rasa cemburu dari teman sekerja lainnya dan pasti mereka akan beranggapan si bawahan tadi mendapatkan perlakukan istimewa. Jelas ini akan mengganggu konsentrasi kerja yang bersangkutan. Jika memang memungkinkan, pindahkan si bawahan ke departemen/bagian lain.
2. Jejak
Bila sedang jatuh cinta, mengungkapkan perasaan pada orang yang Anda kasihi merupakan hal wajar. Tetapi bila ungkapan cinta tersebut terjadi di tempat kerja, maka gosip tidak dapat dihindari. Setiap orang bisa saja keliru saat mengirim e-mail. Bayangkan bila e-mail Anda yang bertuliskan, "Sayang, tadi malam kamu romantis sekali," terkirim bukan kepada orang yang Anda tuju tetapi justru ke bagian personalia. E-mail selalu dapat ditarik kembali walaupun sudah dihapus. Bila ingin aman, sebaiknya jangan pernah menulis e-mail untuk hal-hal yang terlalu pribadi. Jangan pernah menuliskan sesuatu yang tidak ingin Anda lihat atau baca di papan pengumuman.

3. Hindari Kontak Jasmani
Sangatlah tidak nyaman melihat dua teman sekerja yang bermesraan. Kebanyakan sesama teman sekerja yang sedang jatuh cinta cukup peka terhadap hal ini. Sebaiknya, hindari bermesraan di dalam ruang kerja walaupun tidak ada orang lain selain Anda berdua. Memang betul nafsu birahi sering mengganggu pikiran Anda. Yang cukup mengejutkan adalah ternyata dari hasil penelitian memperlihatkan, para pegawai yang saling jatuh cinta mengungkapkan perasaan cinta mereka di tempat kerja. Dalam hal ini, kata-kata, "Lebih baik aman daripada harus meminta maaf," tidaklah tepat.

5 Trik Menghadapi Suasana Kantor Yang Kurang Harmonis


Ilustrasi (Foto: Romy Palar/NOVA)
Menghadapi suasana kantor yang kurang harmonis, atasan dan bawahan saling tuding, intrik-intrik yang kian meruncing, pasti membuat serba salah. Tak enak hati dengan kelompok A saat diajak makan siang oleh kelompok B, khawatir dianggap tak toleran bila tak ikut kelompok B. Atau selalu merasa dicurigai saat berusaha menjalin komunikasi dengan kelompok lain, persaingan di kantor kian tak sehat, dan suasana rapat kerap saling menjatuhkan. Inilah risiko yang terjadi ketika gap atau jarak komunikasi antar kelompok terlalu jauh. 
Bukan hanya Anda yang merasakan dampaknya, perusahaan juga ikut mengalami kerugian. Gap yang terjadi dalam organisasi, menurut Anny Nursani, konsultan sumber daya manusia dari Iradat Konsultan, merupakan masalah yang bisa terjadi, baik di organisasi berskala besar yang melibatkan banyak divisi dan tim kerja, maupun skala kecil. Sayangnya, tak semua orang siap disuguhi intrik dan gap yang terjadi di kantor. 
Beberapa bahkan akan merasa tak betah di kantor. Atau menghindari berada di kantor terlalu lama dan mencari alasan untuk sibuk sendiri. Akhirnya produktivitas menurun, karena kerja tim tak solid. Sulit berinovasi, selalu ada sikap saling curiga, dan tak percaya satu sama lain. Nah, jangan berdiam diri atau membiarkan perusahaan yang Anda cintai hancur karena masalah gap! Masih ada yang bisa dilakukan untuk memperbaiki keadaan.


1. Tingkatkan Percaya Diri
Menghadapi kesenjangan komunikasi antar kelompok di perusahaan bukan berarti hanyut pada aturan main yang terlanjur ada. Saran Anny, tetap netral dan kembangkan sikap profesional dalam bergaul. Fungsikan diri secara optimal, meski berada di pihak netral. Sayangnya, seringkali tak sanggup mempertahankan sikap profesional atau netral, karena berbagai sebab. Misalnya, sebagai orang baru di antara orang-orang lama, merasa jadi kelompok marjinal yang didominasi kelompok superior, khawatir dipersulit dalam pekerjaan, dan lainnya. Berbagai sebab ini membuat pilihan jadi sulit. Namun, bukan berarti Anda tak bisa melakukan perubahan. Jangan berkecil hati. Keyakinan diri yang tinggi akan meringankan langkah untuk berbuat sesuatu di lingkungan kerja tanpa kenal lelah.



2. Berpikir Positif
Masalah gap di kantor pada dasarnya dipicu masalah komunikasi. Hal ini menjadi serius ketika para karyawan tak cukup terbuka dan menerima perbedaan yang ada, sehingga timbul sekat sosial.Lama-lama, perbedaan ini kian meruncing dan menimbulkan ketidaknyamanan. Jangan larut dalam suasana carut marut! Tetaplah berpikir positif. Sehingga selalu merasa mampu menghadapi kondisi apapun.Sikap positif juga bisa ditularkan ke orang lain, sehingga bisa mengurangi energi negatif yang terlanjur dominan. Perlahan-lahan, suasana akan cair dan kembali harmonis, dengan menurunkan level kecurigaan. Pikiran dan sikap positif adalah solusi tepat untuk membangun jembatan komunikasi antar kelompok. Untuk menularkannya, bisa manfaatkan kesempatan informal, seperti saat istirahat makan siang atau bertandang di kubikel rekan kerja.


3. Optimis
Akan melelahkan jika suasana tak kunjung membaik. Hindari bersikap pasif menghadapi gap di kantor. Memang, pada kasus perusahaan yang dimiliki keluarga, akan sulit mengupayakan perbaikan. Namun, bukan berarti perubahan mustahil terjadi. Bersikap pasif hanya akan menjebak Anda dalam pikiran negatif dan jadi pesimis. Kembangkan sikap proaktif dan jangan mengecilkan arti diri di lingkungan kerja. Tetaplah berpikir, Anda punya cukup arti bagi perusahaan dan masalah pasti ada solusinya. Intinya, asal ada kemauan, masih banyak cara yang bisa ditempuh untuk membuat segalanya jadi lebih baik.


4. Berpikir Terbuka
Meski berada di pihak netral dan tak terlibat intrik, tetaplah berpikir terbuka, menerima kritik, dan masukan. Orang yang terbuka akan lebih mudah diterima masukannya ketimbang orang yang sulit menerima masukan orang lain. Berbagai kritik, masukan, keluhan, dan saran yang disampaikan kepada Anda bisa menjadi modal solusi ke depan. Dengan selalu berpikir terbuka, Anda bisa menularkan sikap ini untuk membuka komunikasi antar kelompok yang berseberangan. “Biasanya gap juga disumbang dari ketidakterbukaan dalam menerima perbedaan. Padahal, perbedaan seharusnya diterima sebagai identitas yang dimiliki seseorang, bukannya diseragamkan,” ujar Anny.


5. Jangan Asal Mengadu!
Tetaplah realistis menghadapi gap di kantor. Jika ingin mengupayakan perubahan, penting ditanamkan untuk tak berharap terlalu tinggi. Cukup lakukan yang bisa dilakukan, untuk menghindarkan rasa kecewa. Anda bisa mulai dari rekan terdekat dengan mencoba bergabung saat istirahat makan siang dengan kelompok A, B, maupun C. Apalagi jika Anda orang baru di kantor. Bukan untuk masuk dan menjadi bagian kelompok itu, tapi sebagai upaya untuk bisa menularkan hal-hal baik. Jika jengah dengan situasi yang ada, Anda boleh mengadu. Tapi jangan sembarang mengadu! Anda bisa bicara kepada teman yang bisa dipercaya untuk mendapatkan masukan. Namun, saran Anny, jika cukup profesional, adukan masalah yang ada ke atasan langsung. Tapi jangan langkahi atasan, karena akan menimbulkan gap baru. Jika upaya itu tak banyak membuahkan hasil, cobalah bicarakan ke bagian HRD. Anda juga bisa mengupayakan perubahan dengan menularkan budaya organisasi yang baik, seperti kesetaraan. Tapi jangan berharap terlalu banyak. Menurut Anny, cara ini biasanya akan sulit dan makan waktu lama, mengingat budaya itu sudah terbentuk amat lama. Apapun yang akan Anda lakukan, tetaplah berpijak pada prinsip berpikir positif dan tekun mengupayakan perubahan.


Laili Damayanti
http://www.tabloidnova.com

6 Aturan Main jika Terpakasa Putus Hubungan Dengan Teman Sekerja

Nina duduk di tempat kerjanya dan merasa sakit perut. Dia mendengar mantan pacarnya, yang duduk tidak jauh darinya, sedang membuat rencana untuk melewatkan akhir pekan dengan pacarnya yang baru. Itulah pacar yang diselingkuhi sang mantan waktu sedang berpacaran dengannya. "Ada saat-saat di mana saya benar-benar tidak bisa konsentrasi kepada pekerjaan," keluh Nina.
Dari sudut ekonomi, tidak memungkinkan bagi Nina untuk berhenti dari pekerjaannya yang sekarang. Dan karena dia tidak mau menceritakan masalah yang dialaminya pada atasannya, dia terpaksa tetap duduk bersebelahan dengan mantannya selama beberapa bulan. Kebetulan, beberapa bulan sesudah itu, departemen Nina harus pindah gedung sehingga akhirnya ia bisa berada jauh dari sang mantan.
Kejadian serupa sering terjadi di kantor-kantor karena bila Anda masih lajang dan menghabiskan sebagian besar waktu di kantor, tidak heran bila kantor merupakan satu-satunya tempat bagi Anda untuk bertemu dengan seseorang dan memulai suatu hubungan yang lebih dalam. Masalah baru timbul bila hubungan tersebut putus, seperti yang dialami Nina. Mau tak mau, suka tak suka, Anda harus bertemu dengan si mantan setiap hari. Namun, tidak peduli bagaimana tidak nyamannya situasi tersebut, lama-kelamaan hal ini akan surut sendiri dan hubungan Anda akan berubah menjadi sebuah persahabatan.
Nah, agar peristiwa yang dialami Nina siap Anda hadapi jika satu saat Anda berkencan dengan teman sekerja, berikut sejumlah aturan main jika terpkasa putus hubungan dengan teman sekerja.
1. BERSIKAP DEWASA
Tidak dapat dihindari bila orang yang diputuskan akan merasa tidak senang, marah, serta menunjukkan sikap yang tidak bersahabat. Tetapi perlu diingat, di tempat kerja Anda perlu mengendalikan perasaan sakit hati dan marah. Mungkin Anda merasa perlu untuk tidak berbicara sama sekali dengan mantan, tetapi bila Anda berdua terlibat dalam suatu pekerjaan/proyek yang sama, sikap ini sama sekali tidak dibenarkan. Bila ingin marah, sebaiknya keluarkan uneg-uneg kepada sahabat Anda. Lakukan melaui telepon, jangan lewat e-mail. Atau lebih baik lagi bila dilakukan setelah jam kantor usai.
Sebaliknya, bila Anda yang memutuskan hubungan tersebut, Anda perlu peka terhadap perasaan sang mantan. Sebagai orang yang memutuskan hubungan, Anda memang berhak untuk pergi tetapi Anda juga harus bertanggung jawab untuk membantu mantan melewati masa-masa yang sulit ini. Bila Anda menghindar setiap kali bertemu atau berpapasan dengannya, membuat dia lebih menderita karena dia merasa dirinya seperti orang yang dibuang. Sebaiknya bersikap biasa saja. Bila kebetulan bertemu, berikan senyum dan sapa sekadarnya. Hindari kata-kata, "Apa kabar" karena hal ini hanya akan menambah luka di hatinya.
2. INFORMASI
Bila teman sekerja tahu mengenai hubungan cinta Anda, adalah penting untuk memberi info mengenai status terakhir hubungan Anda. Bila hubungan cinta di kantor menjadi tidak nyaman, tidak etis untuk melecehkan reputasi si dia dan hal ini hanya akan memberi kesan yang tidak baik bagi diri Anda. Sebaliknya, berikan informasi yang diperlukan dan tunjukkan kepada teman-teman yang lain bahwa walaupun Anda berdua sudah putus tapi tetap professional dan tetap mampu bekerja sama dengan baik.
3. JANGAN LIBATKAN ATASAN
Ingat, kantor bukan merupakan tempat bermain Anda! Jadi, jangan buat semuanya jadi berantakan. Bila atasan Anda tidak menanyakan masalah pribadi, sebaiknya Anda tetap tutup mulut walaupun hal ini berarti Anda terpaksa tetap duduk berdekatan dengan si mantan. Bila atasan mengetahui perihal putusnya hubungan Anda dan bertanya apakah Anda keberatan bekerja sama dengan mantan, Anda dapat memberikan jawaban sebagai berikut, "Tidak masalah, dia memang berbakat. Saya yakin kami dapat menyelesaikan pekerjaan ini dengan baik." Dengan demikian Anda memperlihatkan kedewasaan Anda di depan atasan anda dan bagi Anda pekerjaan merupakan prioritas utama.
4. HINDARI GOSIP
Tuti mendengar bisik-bisik mengenai dirinya pada waktu mantannya memutuskannya dan berhenti dari kantor di mana mereka sama-sama bekerja. Teman-teman sekantornya yang doyan gosip, mencoba menghibur Tuti. "Kami tahu dia menyakiti hati kamu dan berselingkuh dan kami tahu bagaimana perasaan kamu." Bagi Tuti, hal ini sangat tidak nyaman dan memnbuatnya malu. Akhirnya, karena tak tahan terus-menerus digosipi macam-macam, Tuti memilih berhenti bekerja.
Jelas, sebetulnya sikap itu tak perlu. Perlu diketahui, bila Anda tidak menanggapi omongan semcam itu dan bersikap cuek terhadap gossip-gosip yang beredar, pada akhirnya orang-orang bosan, gosip tersebut akan mereda, dan orang-orang tidak membicarakannya lagi.
5. TAHU KAPAN HARUS CUTI
Bila Anda betul-betul merasa terganggu dan tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan, sebaiknya ambil cuti untuk menenangkan diri anda. Tapi ingat, tidak berarti setiap kali mempunyai masalah pribadi, Anda langsung anbil cuti karena hal ini tidak baik bagi reputasi serta karier Anda.
6. BERHENTI JIKA PERLU
Bila seseorang mencorengkan nama Anda atau bila Anda merasa jika tetap berada di kantor tersebut akan membahayakan, sebaiknya cari pekerjaan di tempat lain. Anda perlu ingat, walaupun sedang sakit hati dan berusaha mengatasinya, hubungan kerja yang baik bukanlah tidak mungkin untuk dijalin. Kejadian semacam ini hanya sesaat dan biasanya semuanya akan menjadi lebih baik bila Anda tahu bagaimana cara mengatasinya.

5 Cara Menaklukkan Si Aneh di Kantor


Foto : Dok. Nova
Di dalam lingkungan kerja, kita pasti akan bertemu dengan orang yang memiliki sifat atau kepribadian yang sulit dipahami. Ada, lho, cara untuk mengenal dan bekerja sama dengan rekan sekerja yang memiliki sifat-sifat yang “menantang” tersebut. Di dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di dunia kerja, dibutuhkan kemampuan untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan yang sama. Ada orang yang memiliki sifat kepemimpinan yang alamiah, dan diikuti pengikut-pengikutnya secara alamiah pula. Sebaliknya, ada juga orang yang memiliki sifat terbuka dan tegas, maupun tertutup dan mudah terpengaruh pendapat orang lain. Berhadapan dengan berbagai macam sifat atau jenis karakter seseorang, dapat menjadi tantangan tersendiri. Anda bisa menyimak beberapa ide tentang bagaimana mengidentifikasi lima jenis kepribadian yang sulit dan mengganggu, serta bagaimana menghadapinya dalam kehidupan sehari-hari di kantor:

1. Tukang mengeluh
Rekan sekerja yang termasuk ke dalam jenis ini biasanya telah bekerja bertahun-tahun di perusahaan. Biasanya, mereka merupakan contoh pegawai teladan di tahun-tahun awal bekerja. Namun, setelah beberapa idenya tidak digubris, lalu berkonfrontasi dengan atasan, mereka tidak lagi dipedulikan. Bila berita buruk disebarkan, mereka akan menjadi orang pertama yang mengetahuinya dan menyebarkannya ke rekan sekerja yang lain. Efek utama dari tukang mengeluh adalah menurunnya moral dan menjadi malas untuk memulai dialog dengan “musuh”, atasan, ataupun jajaran pimpinan. 

Cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan menjaga pandangan mereka di dalam perspektif. Pendapat mereka tidak harus merefleksikan seluruh rekan sekerja yang lain. Kejadian apapun yang memicu perasaan tidak puas adalah masalah mereka dan seharusnya tidak berdampak pada hubungan Anda dengan anggota pimpinan yang lain. 


Jangan bermimpi Anda dapat mengubah pendapat mereka. Lebih baik pusatkan saja perhatian pada pendapat Anda sendiri. Tukang mengeluh sering membenarkan keluhan mereka, tetapi biasanya mereka tetap menyediakan tempat untuk lebih obyektif pada fakta-fakta atas masalah yang terlibat.


2. Tukang gosip
Rekan sekerja jenis ini senang dengan kontroversi dan perselisihan yang dapat muncul di lingkungan tempat kerja. Meskipun jarang menjadi pegawai teladan, si tukang gosip akan secara rutin menempatkan diri mereka untuk sengaja menguping pembicaraan rahasia, membaca memo rahasia, dan mendengar pembicaraan telepon yang sifatnya rahasia. Efek utama dari rekan sekerja yang termasuk jenis ini, adalah menyebarnya informasi yang salah dan hilangnya kepercayaan dari sesama rekan sekerja. 

Ada rekan sekerja yang secara diam-diam mendekati si tukang gosip dengan tujuan agar bisa memperoleh informasi yang mungkin berguna bagi mereka. Sebetulnya ini merupakan hubungan yang tidak sehat dan harus Anda hindari. Cara terbaik menghadapi si tukang bergosip adalah dengan menjauhinya. Begitu mendengar rekan sekerja mulai bergosip, usahakan untuk menghindari dan tidak terlibat dalam pembicaraan. Bila si tukang gosip mendekati diri Anda dengan gosip baru, katakan dengan sopan dan tegas, Anda tidak tertarik. Si tukang gosip cenderung mencari lawan bicara yang responsif dengan gosip mereka.

3. Gila hormat
Rekan sekerja jenis ini senang menyulitkan orang lain. Selama Anda tidak dapat melakukan pendekatan dengannya, permintaan Anda untuk informasi yang tengah Anda perlukan cenderung tidak akan dipedulikannya. Tetapi, begitu Anda dapat mengambil hatinya, Anda tidak akan menemukan kesulitan dalam memperoleh informasi darinya. Dengan senang hati mereka akan memberikan apa yang Anda perlukan. Tunjukkan kepada mereka, Anda tahu merekalah yang berkuasa dan dekati mereka dari sisi manusiawi yang mereka miliki.

4. Serba tahu 
Rekan sekerja jenis ini selalu merasa merekalah yang paling tahu tentang segala hal yang terjadi di tempat kerja. Jika Anda telah melakukan semua yang Anda ketahui untuk memperbaiki situasi di kantor, Anda memerlukan suatu penguatan pada saat menyampaikannya kepada rekan sekerja yang serba tahu ini. 

Rekan sekerja yang serba tahu ini mungkin memang seorang yang pintar di bidangnya, tetapi sudah pasti merupakan rekan sekerja yang menyebalkan. Efek utamanya, bisa membuat kita malas untuk meminta bantuannya. Situasi yang menguntungkan bila tidak memiliki hubungan dekat dengannya adalah tidak mendapat sapaan dari mereka berbulan-bulan. 


Hal ini merupakan tantangan yang sulit bila Anda ingin menjaga hubungan kerja yang baik dengan rekan sekerja yang berbakat dan bermanfaat. Cobalah untuk melakukan interaksi di luar kantor, minum kopi sesudah jam kantor, atau makan siang bersama. 


Rekan sekerja yang merasa paling tahu segalanya biasanya menggunakan kepintaran mereka sebagai benteng pertahanan diri. Mereka bahkan mungkin tak menyadari, perkataan mereka pedas dan ketus. Secara pribadi tak ada salahnya Anda memberi saran kepada mereka untuk lebih bijaksana bila berhadapan dengan sesama rekan sekerja lainnya.

5. “Moody”
Rekan sekerja jenis ini memiliki karakter dengan suasana hati yang naik turun. Kadang sikap mereka menyenangkan, tetapi bisa tiba-tiba berubah menjadi sedih atau marah. Bila mereka menduduki posisi sebagai atasan, bawahan mereka pasti memilih untuk tidak terlalu dekat dengannya atau menjaga jarak. Mereka tampaknya setuju dengan pendapat Anda, tetapi hati-hati, bisa jadi mereka membicarakan Anda di belakang, tanpa Anda ketahui. Cara terbaik berhadapan dengannya adalah peka dengan suasana hati mereka. Bekerja sama sebaik mungkin pada saat mood mereka sedang bagus dan hindari mereka pada saat mood mereka sedang tidak bagus. 

11 Cari Cara Menyesaikan Masalah


Foto: Dok. NOVA
1. Identifikasi 
Setiap masalah yang muncul perlu diidentifikasi atau dikenali. Jika Anda salah dalam mengenali masalah, maka Anda akan menerima dampaknya, antara lain:

a. Jalan keluar yang Anda ambil kurang tepat. 
b. Konsentrasi tidak terfokus pada tugas yang sedang Anda kerjakan
c. Anda kembali melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang.

Jika ini terjadi, Anda akan menemui kesulitan untuk mengembangkan diri dan gagal memecahkan persoalan yang Anda alami. Akibatnya, bisa saja atasan “gerah” melihat kinerja Anda yang kurang memuaskan. Jadi, pandai-pandailah mengidentifikasi permasalahan, agar semua tugas Anda bisa Anda selesaikan dengan lancar, meski seribu persoalan datang menghadang.
2. Seimbangkan emosi dan stres 
Emosi dan stres akrab dengan diri kita ketika tugas mulai menumpuk, sementara waktu yang kita miliki untuk mengerjakannya sangat sempit. Dengan kata lain, Anda dikejar deadline mematikan. Nah, bagaimana menghadapi situasi seperti ini? Apa yang seharusnya Anda lakukan? 
Mungkin hanya ada satu jalan, yaitu tetap mengerjakan tugas itu. Tidak ada jalan lain. Jadi, Anda harus pintar membuat prioritas, pekerjaan mana yang harus diselesaikan lebih dulu (meski semua tugas penting). Prioritas juga akan membantu Anda menuntaskan pekerjaan Anda. Dan, di tengah-tengah Anda berupaya memecahkan persoalan yang mendesak itu, upayakan untuk menyeimbangkan emosi dan stres. Jangan sampai, kedua suasana hati dan pikiran itu menutup celah pemikiran kritis Anda.
3. Jangan gampang panik 
Apakah Anda termasuk orang yang gampang panik? Jika jawabannya ya, Anda tampaknya perlu berbenah diri. Pasalnya, kepanikan akan menutup ketenangan dan kejernihan pikiran. Akibatnya, permasalahan yang Anda hadapi tidak akan pernah lenyap dari hadapan Anda. Bahkan, akan semakin kerasan menghinggapi diri Anda, dan mengacaukan semua jadwal kerja Anda. Cobalah hela napas dalam-dalam saat kepanikan muncul dan melanda diri Anda. Kemudian, setelah Anda merasa lebih tenang, pahami benar-benar permasalahan yang ada, dan atur langkah untuk mengalahkannya. Jadi, tak perlu lagi berpanik-ria. Yakinlah bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.
4. Jangan menyalahkan diri sendiri 
Jangan terlalu cepat menyalahkan diri sendiri pada saat masalah muncul. Ingat, penyebab persoalan yang ada di tempat kerja bisa bermacam-macam, dari mulai ulah pesaing Anda sampai ke soal-soal kecil yang luput dari pemantauan Anda, semua bisa menjadi penyebab timbulnya masalah. Oleh karena itu, jika Anda mengalami suatu masalah, jangan segera menyerah dan menyalahkan diri Anda sendiri. Lebih baik segera cari penyebab kenapa masalah itu bisa muncul, sehingga Anda dapat secepatnya keluar dari krisis yang Anda alami. Menyalahkan diri sendiri bahkan justru membuat Anda menjadi tidak percaya diri. Bagaimana jika persoalan itu memang akibat kelalaian Anda sendiri? Jika ini yang terjadi, yang sebaiknya Anda lakukan adalah menyadari kesalahan tersebut, dan segera cari cara untuk memecahkannya dengan ketenangan berpikir.

5. Jangan menyalahkan rekan kerja 
Inilah cara yang paling gampang dan sering dilakukan orang di tempat kerja; menyalahkan rekan sekerja. Berbagai alasan dikemukakan kepada atasan, yang intinya menyatakan bahwa kegagalan Anda menyelesaikan tugas-tugas Anda adalah karena kelalaian rekan kerja. Tak lupa pula Anda sisipkan kata-kata, “Padahal, itu, kan, tugas tim.” Akhirnya, lengkaplah argumentasi Anda untuk lebih meyakinkan atasan. Sebaiknya berhati-hatilah menyalahkan rekan kerja. Pasalnya, jika mereka ternyata tidak melakukan apa yang Anda tuduhkan, bisa-bisa tuduhan itu berbalik menghantam Anda sendiri. Jadi, pikirkan matang-matang sebelum Anda menyalahkan rekan kerja. Kalau perlu, evaluasi diri sebelum melakukan koreksi atas kerja rekan Anda. Intinya, jangan asal tuding-lah.
6. Peka 
Dalam berkarier, jangan sekali-sekali meninggalkan kepekaan yang Anda miliki. Bahkan sebaliknya, terus asah kepekaan itu, terutama kepekaan terhadap lingkungan kerja, pesaing, dan seluk beluk tugas Anda sendiri. Dengan demikian, Anda akan cepat menemukan dan merasakan bahwa ada permasalahan yang mengganjal dalam menjalankan tugas. Berawal dari kepekaan itu pula, Anda harus segera berbenah diri dan mencari jurus jitu untuk memecahkan masalah. Jika Anda belum memiliki cukup kepekaan, segeralah belajar untuk membuka wawasan, pengertian, dan pergaulan. Sebab biasanya, dari situlah benih-benih kepekaan akan muncul. Yang penting, jangan menjadi karyawan yang menutup diri terhadap dinamika kerja.
7. Berani mengambil risiko 
Seringkali pilihan sulit menghadang saat kita berniat memecahkan suatu masalah. Tak jarang bahkan berbenturan dengan risiko. Misalnya, terkadang Anda harus berhadapan dengan rekan kerja sendiri ketika Anda harus memecahkan suatu masalah di kantor. Wajar jika ini terjadi. Pasalnya, biasanya pekerjaan Anda juga terkait dengan pekerjaan orang lain dalam kantor Anda. Untuk itu, Anda harus berani mengambil risiko untuk bersinggungan dengan rekan kerja, tanpa mengorbankan profesionalisme. Misalnya, dalam suatu rapat, Anda memberi masukan bahwa demi efisiensi, tugas tertentu harus dirampingkan. Tentu ini akan merugikan rekan kerja yang kebetulan mengerjakan tugas yang akan dihilangkan itu. Namun, bila itu memang yang terbaik, apa boleh buat. Hadapilah risiko dengan profesionalisme yang tinggi.
8. Pantang menyerah 
Salah satu syarat utama jika Anda ingin memecahkan persoalan adalah jangan mudah menyerah, terutama bila menghadapi permasalahan yang rumit dan butuh kejelian. Jika cara pertama yang Anda tempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut gagal, misalnya, maka Anda tak perlu ragu untuk mencari cara kedua dan seterusnya. Hanya dengan cara demikian, Anda dapat mengatasi setiap persoalan yang muncul. Jika seribu satu cara yang Anda pakai gagal membantu Anda memecahkan persoalan, carilah alternatif lain sebagai pengganti. Dengan begitu, Anda tidak akan terlalu dirugikan karena gagal memecahkan persoalan yang Anda hadapi. Yang pasti, Anda harus bermental baja dan pantang menyerah.
9. Jangan hanya jago berbicara 
Perang kata-kata mungkin sering Anda jumpai di kantor tempat Anda bekerja, terutama di dalam rapat. Biasanya, antaranggota tim kerja melakukan adu argumentasi dengan tujuan yang beragam. Ada yang mengemukakan argumen untuk kepentingan tim kerja, ada pula yang hanya mengumbar kata-kata untuk kepentingan diri sendiri. Misalnya, berargumentasi untuk sekedar berkelit untuk menutupi kesalahan yang telah diperbuat. Untuk yang terakhir ini, jangan ragu-ragu, hindarilah! Jangan mengeluarkan perkataan yang tidak bermanfaat, apalagi untuk “cari muka”. Jika Anda sudah terbiasa bermanis kata di depan atasan untuk menutupi kekurangan Anda, alangkah bijaksana jika Anda menghilangkan kebiasaan ini demi kebaikan Anda sendiri. Biasakan untuk berpikir dewasa, tidak asal berbicara, sehingga setiap permasalahan bisa segera Anda atasi sesegera mungkin. Ingat, kedewasaan berpikir akan mempercepat Anda mengambil keputusan dan mencari cara untuk memecahkan permasalahan. Jadi, jangan hanya andal dalam berbicara tanpa makna, tapi asah juga kemampuan berpikir secara dewasa.
10. Berpikir ke depan 
Jangan berpaling ke belakang, tapi berpikirlah jauh ke depan. Ungkapan itu bisa Anda terapkan jika ingin memecahkan masalah yang menghadang. Dengan pola berpikir maju ke depan, Anda akan menemukan banyak alternatif, banyak celah dan kesempatan, sehingga Anda tidak akan terjebak pada satu persoalan. Pola pikir yang demikian juga dapat mengantarkan Anda pada cepatnya proses pengambilan keputusan yang Anda buat untuk memecahkan persoalan. Untuk memiliki pola pikir ke depan, Anda harus rajin mengamati dan berinovasi, baik pada pesaing maupun pada perusahaan tempat Anda bekerja. Jadi, tak perlu terlalu lama menunggu, mulailah mengembangkan budaya berpikir ke depan sekarang juga, dan jangan menoleh ke belakang jika memang tidak perlu.
11. Berdoa 
Usaha dan kerja keras tidak akan berhasil jika tidak dibarengi dengan doa. Doa akan membawa Anda pada ketenangan pikiran. Doa juga akan meyakinkan Anda bahwa Anda punya sahabat sejati yang senantiasa mendampingi Anda, yakni Tuhan, yang memberi Anda karier seperti yang Anda harapkan. Dengan bantuan dan petunjuk-Nya, niscaya Anda akan mampu memecahkan setiap permasalahan yang muncul.
Kiriman: Rahmat Herry P. - Jakarta (Dok. NOVA)
http://www.tabloidnova.com

6 Cara Hadapi Teman Kerja Menyebalkan


Foto : Dok. Nova
Bayangkanlah dalam situasi Anda sudah menyiapkan rencana kerja, menyiapkan segala sesuatu, dan pekerjaan sudah hampir siap sesuai dengan tenggat waktu. Lalu, mendadak Anda menyadari, kolega Anda tidak memberikan data yang diperlukan dan dia tidak ada di kantor. Celakanya, ia jadi sulit dihubungi. Telepon genggamnya tak aktif dan SMS Anda tak dibalas. Pada saat yang bersamaan, telepon di meja kerja berdering dan Anda harus menjawab telepon dari para klien!



Ketika Anda sudah memusatkan kembali perhatian pada pekerjaan yang sedang dikerjakan, tiba-tiba kolega Anda yang lain muncul di ruangan ­ dua kali ­ untuk membicarakan anak perempuannya yang ikut kursus musik. Bagaimana dapat menyelesaikan pekerjaan bila Anda selalu diganggu dengan hal-hal tersebut? 


Kerap kali, rekan sekerja yang malas dapat membuat Anda naik darah atau menyebabkan pekerjaan menumpuk di akhir minggu. Berikut beberapa tips untuk menghadapi teman sekerja yang sering membuat Anda jengkel: 

1. Tukang Bolos 
Orang yang termasuk tipe ini dapat tiba-tiba menghilang tepat pada saat ia justru dibutuhkan. Mereka sering mangkir dan datang terlambat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Padahal, gara-gara perilakunya itu, pekerjaan/tugas Anda jadi terhambat karena ulah teman tersebut. Alhasil, Anda harus kerja dua kali atau malah kerja rangkap alias melakukan tugas yang semestinya bukan bagian/tanggung jawab Anda. 

Cara mengatasinya : 
Anda harus membicarakan masalah ini dengan orang yang bersangkutan. Jelaskan padanya permasalahannya dan perasaan Anda atau akibat dari perbuatannya terhadap pekerjaan. Ajak dia untuk mencari jalan keluarnya. Misalnya, tanyakan padanya, apakah dia sadar, akibat perbuatannya pekerjaan harus dikerjakan dua kali sehingga unit/departemen Anda terkesan tidak 
profesional. Tanyakan pula, apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Jika ia menjawab, jalanan menuju kantor macet sementara rumahnya jauh, mungkin salah satu solusinya ia pindah rumah atau berangkat lebih awal. 

2. Pemberontak 
Tipe pemberontak kerap mengurangi pekerjaannya dengan meminta orang lain untuk mengerjakan tugas yang harus dikerjakannya. Mereka menyalahkan orang lain atas kesalahan yang mereka lakukan dan menolak mengerjakan pekerjaan yang tidak tertulis dalam deskripsi pekerjaannya. 

Cara mengatasinya : 
Pertama, pastikan benar, apakah dia termasuk di dalam daftar nama yang harus mengerjakan pekerjaan tersebut. Bila tidak, jelaskan pada atasan mengenai situasi ini dan tanyakan padanya, apa yang harus Anda lakukan. Misalnya, "Operator telepon kita, si X, selalu menyambungkan telepon yang tidak jelas untuk siapa ke saluran saya. Apakah saya harus menerima telepon tersebut atau saya katakan kepadanya untuk menyambungkan ke kolega yang lain?" 

3. Si Penunda Pekerjaan 
Tipe ini selalu menunda pekerjaannya sampai saat-saat terakhir. Baru setelah diminta atau diingatkan berulang kali, ia menyelesaikan tugasnya yang jelas-jelas memperlambat pemberian informasi/data yang Anda butuhkan sesuai batas waktu yang Anda perlukan. 

Cara mengatasinya : 
Majukan tenggat waktu yang Anda tetapkan untuk dia sehingga Anda dapat menyelesaikan tugas Anda tepat waktu tanpa harus menelan kekesalan lagi karena teman kerja Anda baru menyelesaikan tugasnya pada detik-detik terakhir sementara Anda sudah diburu deadline. Bila hal ini tidak berhasil, beri catatan pada laporan Anda bahwa informasi belum diterima dari X atau dari departemen Y. Dengan cara ini, si penunda pekerjaan akan bereaksi dan jika ia memang berniat bekerja dengan baik, pasti akan mengubah perilakunya. 

4. Pesaing 
Tipe ini selalu ingin menunjukkan, dia lebih dari yang lain. Dia cenderung selalu berusaha mengerjakan segala sesuatunya melebihi teman sekerja yang lain. Entah dengan memperlihatkan ia bisa menjual prodfuk paling banyak, bekerja paling lama di kantor, atau menyelesaikan tugas dengan cepat namun sebetulnya hasilnya tak bagus. Rekan kerja dengan tipe ini biasanya juga suka menjilat atasan dan susah diajak kerja sama. Pendeknya, ia ingin selalu tampil jadi primadona. 

Cara mengatasinya : 
Tunjukkan padanya, Anda tidak tertarik untuk melakukan pekerjaan dengan gaya bersaing. Misalnya. "Buat saya, tidak penting apakah kamu mengetik lebih cepat atau tidak, karena hal ini membuat saya terganggu. Kamu selalu memaksa saya untuk bersaing. Kenapa, sih, kamu selalu harus merasa nomor satu dalam segala hal?" 

5. Jago Kritik 
Baju, suami, cara kerja, bahkan mobil Anda pun tidak lepas dari kritikannya. Pendek kata, tak ada yang benar di mata teman yang satu ini. Bahkan nyaris semua kebijakan perusahaan dikritiknya dan ia menyatakan rasa tidak puasnya tapi tetap saja bekerja di situ. Umumnya, hasil pekerjaan karyawan tipe ini biasa-biasa saja jika tak mau dikatakan kurang. Kemungkinan besar ia jadi "hobi" melancarkan kritik karena sebetulnya ingin menutupi kelemahan/kekurangannya. 

Cara mengatasinya : 
Anda tidak perlu marah terhadap kritikannya. Tenang saja. Mungkin kritikan dia ada benarnya. Bila Anda tenang, Anda dapat menerima kritikannya dengan santai tanpa perlu cemas atau merasa perlu membela diri. Misalnya, dia mengejek Anda dengan mengatakan baju yang Anda kenakan tampak kebesaran. Nah, jawab saja sambil tersenyum, "Iya, mungkin badan saya harus lebih digemukin lagi." Setelah itu, lupakan kritikan si teman. Anda tidak perlu mananggapinya dengan serius.

6. Tukang Menyela 

Si penyela ini bisa bolak-balik ke meja Anda hanya untuk menceritakan tentang pacar terbarunya. Bunyi telepon di meja Anda maupun tenggat waktu untuk menyelesaikan pekerjaan Anda, bukan merupakan penghalang baginya. Tetap saja dia bolak-balik sehingga mengganggu konsentrasi Anda. 



Cara mengatasinya : 
Bila teman ini hanya ingin mengobrol, terutama mengenai masalah pribadi, katakan padanya untuk membicarakannya pada jam makan siang atau pada waktu istirahat. Tentukan jamnya dan Anda harus konsisten dengan waktu yang telah Anda tentukan. Usahakan Anda yang mendatangi teman itu di ruangannya sehingga Anda tidak perlu buang-buang waktu lagi. Usai mendengar celotehannya, tinggalkan si teman. 

Hal terpenting yang perlu diingat dan dijaga dalam hubungan dengan teman sekerja Anda adalah jangan sampai ada pertengkaran. Jauh lebih mudah mengatasi masalah sedini mungkin daripada mempertahankan hubungan yang sudah retak. Hal lain yang juga perlu diingat adalah bahwa atasan Anda selalu ingin departemennya kelihatan baik dan pastikan Anda sanggup mengerjakan tugas yang diberikan dengan baik.

3 Bedanya Perilaku Atasan Pria dan Wanita


Foto: Romy Palar/NOVA
Di dunia bisnis, di samping ada standar ganda yang digunakan untuk melihat etos kerja orang lain, juga ada isu gender yang dikaitkan dengan performa kerja seseorang.
Meski sudah banyak kenyataan membuktikan, wanita mampu bekerja layaknya pria. Akan tetapi, masih saja ada pandangan, wanita punya banyak keterbatasan serius dalam dunia bisnis apalagi untuk menjadi seorang pemimpin. Penilaian ini masih kerap terdengar di banyak ruang konferensi hingga kini.
Atasan wanita yang lebih asertif dan berorientasi pada tujuan seperti kebanyakan pebisnis, akan dianggap kejam dan kasar oleh banyak bawahannya. Bila atasan wanita banyak dipengaruhi emosi dan tak agresif – sebagaimana distereotipkan pada banyak atasan pria – maka ia akan kalah dalam dunia bisnis.
Namun, waktu kini telah berubah. Generasi muda masa kini dibesarkan pula dalam keluarga yang kedua orangtuanya bekerja. Atasan wanita kini bukanlah hal yang baru dalam hal ini. Mereka memiliki kelebihan tersendiri dibandingkan atasan pria. Apa perbedaan mendasar itu?
1. Kreativitas
Penelitian telah membuktikan, wanita lebih komunikatif di dalam tim daripada pria. Ini merupakan sisi baik yang dimiliki pemimpin wanita. Wanita sangat unggul dalam hal kreativitas. Sebagai pekerja ia akan unggul dalam bidang yang menghargai kreativitas seperti bidang komunikasi, seni, maupun menjadi penulis. Sedangkan pria lebih unggul dalam bidang eksakta seperti bidang akunting. Bila Anda menginginkan atasan dengan kreativitas yang tinggi, pilihan atasan wanita memang sangat tepat. Selain itu, atasan wanita juga sangat memperhatikan hubungan antar personal, ramah, dan terbuka untuk sebuah gagasan.

2. Sangat Baik Atau Buruk
Kepemimpinan wanita memang sangat menarik untuk diamati. Dalam sebuah kasus, ia bisa menjadi gambaran pemimpin yang sangat baik, tapi juga bisa menjadi amat sangat buruk . Pemimpin wanita bisa menjadi sangat totaliter bak Stalin dari Rusia. Ia bisa memiliki kecenderungan untuk menebar sejumlah kecurigaan yang membuat suasana tak nyaman di lingkungan kerja. Membungkam pemikiran anak buahnya hingga membuat mereka dilanda ketakutan setiap saat berada di bawah tekanannya. Sikapnya ini seolah memupuk budaya bergosip, main tusuk dari belakang, hingga aksi saling mengadu. Namun, di sisi lain atasan wanita juga bisa menjadi sangat baik, penyayang, tenggang rasa, ramah, sensitif, dan bisa menjadi pendengar yang baik. Kebanyakan atasan wanita menunjukkan sikap amat peduli kepada bawahannya, dan ini tergambar dari seluruh sikap yang ditunjukkannya sehari-hari. Selain itu, atasan wanita juga sangat tegas dan memegang teguh visi yang sudah ditetapkannya terhadap organisasi atau perusahaan. Ia sangat memegang prinsip dan berintegritas.

3. Tak Ada Yang Lebih Baik Atau Lebih Buruk 
Sebagaimana atasan pria, atasan wanita juga ada yang baik, buruk, bahkan amat sangat buruk. Banyak jenis gaya kepemimpinan yang dimiliki atasan wanita. Ketika pegawai memiliki pendirian definitif tentang apakah atasan pria atau wanita yang paling baik atau buruk, sebenarnya mereka sedang terlalu berasumsi. Kendati demikian, tak ada pemimpin yang benar-benar buruk. Semua itu kembali pada kebutuhan organisasi dan lingkungan kerja.


Laili Damayanti

5 Problem Wanita Karier


Foto: Dok. Nova
Berikut ini sejumlah situasi yang kerap terjadi di tempat kerja, sekaligus tips mengatasinya. 


1. Jam Kerja Ketat
Anda memerlukan jam kerja fleksibel agar dapat merawat anak-anak bila mereka sakit, tetapi atasan sangat kaku dan menuntut Anda harus tetap berada di kantor pada saat jam kerja. Anda perlu mengantisipasi apa yang akan dilakukan bila anak sakit karena hal ini pasti bakal terjadi. Tentukan batasan-batasan, kapan akan tinggal di rumah dan kapan merasa cukup nyaman untuk ke kantor, meninggalkan anak dengan pengasuhnya. Misalnya bila anak demam atau panas tinggi, Anda tidak akan ke kantor, sementara jika si kecil hanya sakit perut biasa, Anda tetap ke kantor sambil terus memantau perkembangannya. Perjelas dari awal dengan atasan mengenai kebutuhan Anda bila sewaktu-waktu harus izin karena tidak ada yang menjaga anak. Anda sendiri pun harus bersikap tegas terhadap diri sendiri agar tidak memiliki konflik mengenai keputusan yang diambil bila harus meninggalkan anak dengan pengasuhnya.

2. Merasa Bersalah
Anda menyukai pekerjaan yang kini ditekuni dan dengan bekerja memperoleh kepuasan serta ingin mengabdikan diri pada pekerjaan tapi merasa bersalah karena tidak dapat memberikan perhatian penuh pada anak-anak. 
Bila merasa bersalah karena mencintai pekerjaan lebih daripada berada di rumah, sebetulnya Anda tidak sendirian. Banyak sekali wanita yang berusaha melawan perasaannya, memilih antara pekerjaan dan rumah tangga. Penelitian menunjukkan, orangtua yang bekerja tidaklah membahayakan anak-anaknya. Pada kenyataannya, anak-anak yang memiliki orangtua yang bekerja, tumbuh dengan baik dan memperlihatkan pencapaian kognitif luar biasa. Cobalah untuk mencari jalan keluar dengan atasan mengenai jam kerja Anda. Siapa tahu Anda dapat bekerja tiga atau empat hari dalam seminggu sampai mendapatkan keseimbangan dalam pekerjaan dan rumah tangga sehingga Anda sungguh-sungguh merasa nyaman melakukannya.



3. Tak Mendapatkan Promosi 
Sebelum membicarakan masalah ini dengan atasan, sisihkan sedikit waktu untuk merenungkan kasus Anda. Jujurlah terhadap diri sendiri, apakah Anda memang bersungguh-sungguh dengan pekerjaan? Apakah menurut Anda memang cukup adil bila Anda tidak dipromosikan? Masalahnya, kadang-kadang tidak dipromosikan merupakan hal yang masuk akal. 
Bila merasa telah diperlakukan tidak adil, buktikan dan cari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan tenang pada atasan mengenai keputusan yang diambilnya dan apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki diri, termasuk melakukan perubahan-perubahan di masa mendatang. 

4. Mengatasi Konflik 
Anda dapat menjumpai berbagai ragam konflik kepribadian di tempat kerja. Bila berhadapan dengan rekan sekerja yang memiliki karakter aneh, hindari keinginan Anda untuk bertengkar dengannya. Ikuti pepatah kuno, "Perlakukanlah orang lain sebagaimana Anda ingin diperlakukan". Atasan akan menghargai kedewasaan dan kemampuan Anda dalam bekerja, serta menghargai sikap Anda yang tidak meladeni rekan sekerja yang bersikap aneh.

5. Tak Cocok dengan Atasan 
Jika atasan berkarakter aneh, mulailah berpikir untuk pindah kerja. Sangat sulit bila konflik yang Anda hadapi justru dengan atasan. Bila merasa nyaman untuk membicarakan permasalahan yang diadakan dengan atasan, boleh saja Anda coba. Bila tidak ada harapan, minta pada atasan untuk memindahkan Anda ke departemen lain. Bila tidak ada jalan lain, mungkin sudah saatnya untuk pindah kerja. Dan penting bagi Anda untuk menimbang-nimbang sisi positif dan sisi negatifnya. Pertimbangkan bagaimana pentingnya rasa aman bagi Anda, apa saja alternatifnya, serta bagaimana risiko dan dampak keuangan bila Anda pindah.

10 Hal Yang Dapat Menenggelamkan Karier


Mungkin Anda perlu waktu tiga bulan, bahkan setahun lebih untuk mendapatkan pekerjaan yang cocok. Celakanya, hanya dalam waktu beberapa hari atau minggu kita bisa kehilangan pekerjaan tadi. Lho, kok bisa? Tentu saja bisa dan itu karena kesalahan yang Anda lakukan. Tanpa disadari, Anda menghancurkan karier sendiri. Berikut hal-hal yang dapat mematikan karier dalam sekejap. 

1. KETIDAKMAMPUAN 

Ketidakmampuan bisa berbuntut panjang. Penelitian menunjukkan, perusahaan selalu berpendapat, lebih baik punya pegawai yang secara konsisten mau belajar menambah keterampilannya daripada yang hanya berhenti pada satu kemampuan. Soalnya, pegawai tipe ini tidak akan berkembang dan cenderung tak mau bekerja sama.


2. SULIT KERJA TIM 
Tidak ada seorang pun yang merasa senang hidup di samping seorang primadona. Perusahaan pasti akan kesulitan menghadapi karyawannya yang tak mau atau tak mampu bekerja dalam tim. Jadi, pastikan Anda bisa menjadi anggota tim kerja yang baik dan bisa bertindak sebagai makhluk sosial yang baik pula. 

3. TAK TEPAT WAKTU 
Jika pekerjaan harus selesai hari Rabu, misalnya, camkan di benak bahwa hari Kamis tidak akan pernah ada. Suatu organisasi membutuhkan orang yang dapat bertanggung jawab, dipercaya. Tak menepati tenggat waktu bukan hanya mencerminkan seseorang yang tidak profesional, tapi juga berarti merusak bahkan menghancurkan jadwal kerja orang lain. Ujung-ujungnya, bos Anda yang bakal jadi sorotan. Jika sudah meiliki komitmen, tepati janji, apa pun yang terjadi. Hal ini sangat penting!

4. MEMANFAATKAN FASILITAS PERUSAHAAN 
Fasilitas perusahaan seperti e-mail dan telepon yang ada adalah untuk keperluan bisnis perusahaan. Gunakan telepon untuk keperluan pribadi sesingkat mungkin dan jangan menerima pangggilan telepon yang bersifat pribadi dengan waktu bicara yang lama. 
Juga jangan pernah menulis e-mail yang tidak ingin dibaca oleh bos karena banyak sistem yang dapat menyimpan kiriman-kiriman e-mail yang dihapus ke dalam satu berkas. Ingat pada orang-orang yang berjiwa kerdil yang mencari muka pada atasan. Lagipula, memanfaatkan e-mail milik perusahaan untuk keperluan pribadi, amat tidak diperbolehkan.

5. SOK EKSKLUSIF 
Jangan mengisolasi diri atau bertingkah sok eksklusif. Kembangkan diri Anda dan jalin hubungan dengan rekan sekerja. Orang yang mempunyai jaringan yang efektif, akan memiliki jalur dan sumber informasi yang akurat sehingga dapat lebih mudah mencapai dan mengerti plotik organisasi di perusahaan tersebut.
Penelitian membuktikan, para pegawai yang mempunyai jaringan yang luas, umumnya cenderung menjadi seorang yang dapat bekerja dalam tim, banyak memberi andil pada sukses tim kerja, memiliki nilai lebih, sehingga bisa lebih cepat mendapat promosi serta kompensasi yang tinggi.

6. MENJALIN ASMARA DI KANTOR 
Walaupun Anda dan si dia berada di ruangan atau divisi terpisah, menjalin hubungan asmara di kantor bukan merupakan pilihan yang baik. Jika kebetulan terlibat percintaan dengan bos, begitu ada kesempatan promosi, naik jabatan, pasti akan mejadi gunjingan. Minimal, rekan sekerja mencibir karena anggapan Anda naik posisi gara-gara dekat dengan atasan.
Yang juga tak mengeenakkan, hubungan asmara dengan atasan atau rekan sekerja yang putus di jalan, bisa membuat hubungan kerja jadi terganggu. Belum lagi harus menghadapi omongan rekan-rekan sejawat. 

7. TAKUT AMBIL RISIKO 
Jika Anda tidak percaya pada diri sendiri, maka orang lain pun tidak akan percaya pada Anda. Bersikaplah untuk dapat mengerjakan sesuatu dan mengambil risiko. Katakan dengan jujur, "saya belum pernah mengerjakan hal tersebut tapi saya akan berusaha mempelajari bagaimana caranya."
Jangan takut gagal atau khawatir membuat kesalahan. Jika keadaan menjadi kacau, segera ubah dan minta bantuan rekan atau atasan yang lebih jago. Pokoknya, coba untuk belajar pada semua kesempatan yang ada di setiap situasi. Ingat, lembur karena risiko kerja dapat membuat Anda menjadi lebih tertantang dan lebih cepat maju. 

8. TANPA TUJUAN 
Kegagalan bukanlah sesuatu keburukan dalam rangka mencapai suatu tujuan. Yang buruk adaklah jika Anda tak punya tujuan untuk mencapai sesuatu. Jadi, susun rencana kegiatan sehari-hari untuk mencapai tujuan tadi. Percaya atau tidak, 80 persen dari keberhasilan yang diraih seseorang, 20 persennya datang dari aktivitas yang dilakukannya sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Atur mana yang menjadi prioritas dan fokuskan pada pekerjaan tersebut. 

9. TERKESAN CEROBOH 
Jujur atau tidak, penampilan selalu diperhitungkan. Orang selalu menilai semua penampilan serta tingkah laku Anda. Dengan kata lain, usahakan untuk tidak berpakaian seenaknya saat pergi ke kantor atau berpakaian yang tidak selayaknya dikenakan ke kantor. 
Berlakulah jujur, berbicara dengan bahasa yang baik, sopan, tidak menggunakan bahasa dialek atau daerah. Bersikaplah sebagai seorang yang kompeten, mempunyai komitmen dan perilaku yang baik.

10. TAK MENJAGA MULUT 
Ruangan kecil, gang, tangga berjalan, bahkan kamar mandi kantor, semua itu bukan milik pribadi Anda. Berhati-hatilah jika sedang berbicara di tempat-tempat umum tadi dan perhatikan pada siapa Anda berbicara. 
Jangan bercanda mengenai kepercayaan, suku, rahasia perusahaan, gosip teman sekantor, dan juga pribadi-pribadi para bos. Semua pembicaraan mengenai hal itu bukanlah sesuatu yang bebas, tidak gratis, terutama sangat berharga dan amat berarti bagi pekerjaan Anda!



Dok. Nova