Cari Blog Ini

Kamis, 22 Desember 2011

9 Agar Tidak Menunda Pekerjaan

Ketika atasan menyodorkan tugas, Anda berujar, “Ah, nanti saja!“ Tahu-tahu, pekerjaan menumpuk dan saat ditagih, Anda gagal menepati deadline. Setiap orang cenderung menunda pekerjaan, apapun alasannya. Akan tetapi, bila menunda mulai membuat cemas dan lingkungan kerja bereaksi negatif, hati hati! Bisa jadi ini saatnya Anda menginstrospeksi diri. Ya, kadang kala kita tak sadar sedang menimbun permasalahan pekerjaan. Ketika pekerjaan itu kian menumpuk, bukan semakin mudah diselesaikan. Justru semakin banyak, semakin malas untuk menyelesaikan. Jadilah kita terjebak dalam lingkaran setan. Ujung-ujungnya, konsentrasi semakin buyar dan tak satupun pekerjaan selesai dengan baik. Jika Anda menemui masalah seperti di atas, Himawan Wijanarko, General Manager Strategic Services The Jakarta Consulting Group , menyarankan sebaiknya untuk berstrategi mengurai sindrom prokrastinasi yang melilit. Berikut kiatnya!
1. Psikologis atau Fisiologis
Sebenarnya ada dua permasalahan pokok seseorang menunda pekerjaan yaitu masalah psikologis dan masalah fisiologis.Masalah psikologi biasanya berkisar dari kurang percaya diri akibat merasa diremehkan oleh perusahaan atau lingkungan pekerjaan. Bisa juga disebabkan masalah penundaan pekerjaan yang pernah terjadi sebelumnya, yang kemudian menyebabkan lingkungan memberikan tanggapan negatif. Masalah fisiologis biasanya dialami orang dengan hiperaktivitas, hipertensi dan kelainan hormonal yang mau tak mau memengaruhi proses berpikir dan konsentrasi. Rasa cemas pun meningkat seiring tuntutan pekerjaan, sehingga fokus tidak optimal. Hasil akhirnya bisa ditebak, pekerjaan tidak selesai sesuai waktu dan menumpuk. Jika permasalahan ada pada fisiologis, yang perlu dilakukan adalah manajemen waktu dan stres. Pastikan Anda tidak menumpuk pekerjaan sulit terlalu banyak dengan deadline  yang ketat. Juga perbaiki kualitas hidup untuk menurunkan tingkat kecemasan.
2. Manajemen Diri
Setiap orang memang memiliki kecenderungan menunda pekerjaan. Ini bisa saja disebabkan faktor kurang dalam kemampuan mengatur diri. Orang dengan kecenderungan ini, biasanya sulit mengklasifikasikan mana urusan yang penting dan tidak terlalu penting. Akibatnya semua permasalahan tidak diletakkan dalam skala prioritas yang tepat. Mulai dari pengukuran kemampuan menyelesaikan suatu pekerjaan, perhitungan beban pekerjaan dan prioritas deadline pekerjaan itu sendiri.
3. Yang Menyenangkan
Kebanyakan orang yang terjebak dalam penundaan pekerjaan disebabkan orang punya kecenderungan untuk menyelesaikan pekerjaan yang menyenangkan terlebih dahulu, sedangkan yang sulit belakangan. Sebenarnya ada sisi positif dari menyelesaikan pekerjaan yang mudah terlebih dahulu karena jika memaksakan mengerjakan yang sulit justru bisa membuat pekerjaan tidak selesai-selesai. Kendati demikian, jangan lupakan deadline  dan buat jadwal lebih rapi mengenai pengerjaan tugas perusahaan.
4. Cermin Orang Lain
Kadang kala, kita perlu menjernihkan permasalahan dengan meminta orang lain untuk menjadi cermin. Bukan menirukan apa yang dilakukan orang lain, tetapi meminta orang lain untuk melihat permasalahan diri kita. Kasus penundaan pekerjaan juga bisa diurai melalui strategi ini. Carilah orang lain yang Anda percaya misal, teman kerja atau pasangan, untuk melihat masalah pekerjaan yang dihadapi. Mintalah orang lain menganalisa pekerjaan yang penting dan tidak penting menurut skala prioritas. Atau, mintalah ia menganalisa kesulitan yang sedang dihadapi. Setelah mendapat gambaran permasalahan, mulai buat daftar jadwal pengerjaan. Akan lebih baik jika orang lain juga bisa menjadi watch dog Anda. Disiplin diri akan bekerja lebih baik ketika Anda merasa mendapat dukungan dari orang lain.
5. Manajemen Stres
Disadari atau tidak, stres juga bisa mengacaukan akselerasi penyelesaian pekerjaan hingga tak sesuai target. Menurut Himawan, stres pada dasarnya bisa disebabkan empat hal. Pertama, tekanan seperti deadline  dan tuntutan kualitas diri. Kedua, frustasi yang bisa disebabkan oleh hasil yang kurang baik maupun reaksi negatif lingkungan. Ketiga, konflik seperti saat memilah untuk menyelesaikan pekerjaan yang mana lebih dahulu. Dan keempat, krisis yang bisa disebabkan oleh perubahan yang tiba-tiba. Ketika menemui kondisi stres, yang perlu dilakukan adalah mengatasi efek psikologisnya. Petakan permasalahan demi menurunkan level stres hingga ke jenjang yang masuk akal. Jika Anda piawai memetakan permasalahan, dengan sendirinya level stres menurun. Level stres yang masuk akal ini justru bisa meningkatkan produktivitas seseorang karena stress sebenarnya juga berperan meningkatkan gairah untuk lebih produktif.
6. Sesuai Tipe Anda
Menyelesaikan permasalahan tugas yang menumpuk juga perlu disesuaikan dengan tipe Anda. Apakah Anda tipe orang yang “maju terus, yang penting hadapi” atau tipe yang butuh refreshing  di sela pekerjaan? Memang setiap orang punya kiat untuk mencapai goal . Begitu juga dalam menghadapi permasalahan penundaan pekerjaan. Jika Anda tipe yang pertama, umumnya jarang menghadapi masalah tugas yang menumpuk kecuali Anda memang memiliki masalah menentukan skala prioritas. Sedangkan tipe yang kedua, sebaiknya sedikit memacu diri sendiri untuk membuat target sesuai skala prioritas.Refreshing  setelah usai mengerjakan setengah dari beban tugas memang boleh, akan tetapi pikirkan pula waktu yang tersisa dan kapasitas tubuh serta kemampuan berpikir Anda. Namun jika Anda tipe orang yang sering menarik diri, sebaiknya waspada ketika menghadapi permasalahan yang sulit dalam pekerjaan. Jangan hanya diam. Segera cari referensi atau masukan orang lain agar Anda tak merasa “tidak bisa sebelum melakukan”. Ingat, pekerjaan bisa jadi tidak selesai karena permulaan pekerjaan ataupun penyelesaian pekerjaan.
7. Perfeksionis Rentan Prokastinasi
Yang mengejutkan, pribadi perfeksionis, umumnya lebih mudah terjerat sindroma prokrastinasi. Pasalnya ia kerap merasa pekerjaan kurang baik atau kurang bernilai sehingga memilih untuk tidak menyelesaikan pekerjaan tersebut. Dengan reaksi negatif dari lingkungan kerja, semakin meningkat pula kecenderungan menunda pekerjaan. Jika Anda seorang yang perfeksionis, mulailah tanamkan pada diri Anda jika pekerjaan tak harus diselesaikan dengan sempurna. Tetapi, akan lebih baik jika pekerjaan selesai sesuai deadline. Dan ingat, tidak perlu memaksakan diri menyelesaikan pekerjaan yang sulit, jika hanya akan menyita waktu terlalu banyak.
8. Ambil Cuti
Sindroma prokrastinasi bisa disebabkan perasaan “tidak bisa” sebelum melakukan sehingga pekerjaan tidak pernah selesai. Jika Anda kerap dihinggapi perasaan tersebut akhir-akhir ini, mulailah mengambil jatah istirahat. “Kadangkala, cuti itu memang harus diambil demi meningkatkan produktivitas!” tandas Himawan Ya, cuti memang kadang perlu diambil bukan hanya untuk mengistirahatkan badan tetapi juga untuk me-refresh dan meng-reorganize jadwal. Selain itu, cuti bisa membuat orang bersemangat menyelesaikan pekerjaan sebelum deadline. Tak mau diganggu pekerjaan saat cuti, kan?
9. Konseling
Jika masalah penundaan pekerjaan membuat Anda kerap dihantu rasa cemas dan perusahaan yang menilai Anda kurang produktif, pertimbangkan untuk mencari bantuan ahli seperti psikolog atau konsultan karir.
JIka di perusahaan tempat Anda bekerja menyediakan jasa konseling, ajukan keinginan Anda sebelum terlambat. Umumnya konselor akan melakukan wawancara mendalam terhadap Anda untuk mencari sumber permasalahan. Permasalahan in bisa dari luar pekerjaan, seperti masalah rumah tangga dan sebagainya.
Dari wawancara tersebut, seseorang di arahkan untuk mengenali dan menyadari apa sumber permasalahan penundaan pekerjaan. Setelah permasalahan dirumuskan, baru dicari solusi bersama.
 Laili Damayanti

8 Cara Menghadapi Teman Yang Iri Hati

Musuh-musuh ini sering membuat Anda berada dalam masalah, bahkan sampai menyepelekan prestasi Anda. Lepas dari itu, musuh-musuh Anda yang iri hati dapat merupakan hambatan bagi kemajuan karier Anda, dan mereka bahkan menyusun siasat untuk menjatuhkan Anda. Rekan sekerja yang sangat iri hati dapat dengan mudah dikenali karena dia akan selalu berkompetisi dengan Anda dalam segala hal yang Anda lakukan. Musuh dalam selimut akan menunggu kesempatan untuk membeberkan kejelekan, kegagalan, ataupun kesalahan yang Anda lakukan. Musuh tipe seperti ini merupakan musuh yang paling berbahaya.
Ada dua cara dasar berhadapan dengan rekan sekerja yang iri hati, yaitu:
jinakkan perasaan iri hati mereka, atau berikan perlawanan terhadap usaha mereka. Sebelumnya ada beberapa pertanyaan yang harus Anda jawab sehubungan dengan sikap teman yang iri.
Adakah perilaku Anda yang salah? Apakah Anda melakukan sesuatu yang membuat mereka iri hati? Apakah Anda meremehkan rekan sekerja atau apakah Anda menyombongkan keberhasilan Anda? Pertanyaan-pertanyaan diatas harus Anda tanyakan kepada diri sendiri bila tidak ingin membuat orang lain membenci Anda. Bila Anda menyadari kekurangan Anda, usahakan untuk mengubahnya. Bersikaplah baik dan rendah hati. Bangun rasa percaya diri rekan sekerja dengan menceritakan pengalaman atas keberhasilan yang Anda capai dan ajarkan rekan sekerja cara mencapai suatu keberhasilan. Bila dulu Anda bersikap arogan, ubah sikap ini dan coba berdamai dengan musuh-musuh Anda. Perlihatkan perubahan yang tulus. Demi karier, reputasi, dan kesehatan jiwa, Anda harus hindari pertengkaran atau perasaan yang tidak sehat di lingkungan kerja.
Bila Anda melakukan suatu tindakan karena mengkhawatirkan apa yang akan dilakukan oleh rekan sekerja terhadap karier Anda, hal ini dapat langsung mereka kenali. Coba lakukan perubahan dengan tulus karena hal ini merupakan sikap yang profesional. Berperilaku baik agar rekan sekerja menghargai Anda Apakah Anda selalu ingin menang? Tidak ada kata-kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu, setiap orang dapat melakukannya. Jadilah orang yang selalu mengutamakan tim kerja ataupun yang mengutamakan anak buahnya. Tidak ada yang lebih penting daripada memberikan dukungan kepada orang-orang di sekitar Anda. Mencoba menjauhkan diri dari rekan yang iri hati justru akan membuatnya semakin iri dan semakin membenci Anda.
1. Mencegah perasaan iri hati
Bila Anda dapat mengenali rekan sekerja atau bawahan yang tidak puas dan dapat merasakan bahwa kemungkinan dia akan membenci Anda, Anda dapat mencegah perasaan iri hatinya. Sekali-sekali berikan pujian. Bersikap rendah hati serta kenali perasaan iri hatinya dan antisipasi.
2. Luangkan waktu
Sempatkan diri untuk memberikan selamat kepada rekan sekerja atas keberhasilan yang mereka capai. Anda sendiri harus berusaha untuk tidak iri hati karena perasaan iri hati sangat mudah terlihat oleh orang lain. Bila Anda memiliki perasaan iri atau memperlihatkan perilaku yang negatif, Anda akan mendapatkan respons yang serupa.
3. Melakukan perlawanan
Bila Anda tidak sanggup menjinakkan perasaan iri hati dari rekan sekerja, Anda harus melakukan sesuatu demi reputasi Anda. Bila Anda difitnah, Anda harus dapat membuktikan bahwa apa yang dikatakan orang mengenai diri Anda tidak betul. Jangan balas fitnahan dengan fitnahan karena hal ini hanya memperburuk keadaan. Jangan berhenti memberikan pujian kepada rekan sekerja atas prestasinya, selalu tersenyum dan bersemangat, kerja keras dan hindari gosip dan bergosip.
4. Dukungan dari pimpinan
Salah satu yang harus dilakukan bila Anda akan membela diri Anda adalah mencari dukungan pimpinan karena hal ini dapat membuat rekan sekerja yang iri hati kepada Anda menjadi segan dan tidak berani menciptakan masalah.
5. Jangan lemah dan rapuh
Bicarakan permasalahan yang Anda hadapi dengan atasan Anda di ruang tertutup dengan cara yang resmi. Utarakan kekhawatiran Anda dan selalu sampaikan setiap kemajuan yang Anda rasakan. Sesakit apapun perasaan Anda atas ulah teman yang iri, jangan perlihatkan sikap Anda yang lemah dihadapan atasan dan teman-teman.
6. Catat setiap perselisihan
Catat setiap masalah yang terjadi antara Anda dan rekan sekerja Anda yang iri hati untuk menjadi bukti bila diperlukan. Usahakan untuk bersikap profesional. Bila dia bersikap kasar jangan terpengaruh dan kendalikan diri Anda. Bila Anda terpancing melakukan suatu tindakan yang tidak terpuji maka hal ini akan merugikan karier Anda.
7. Jangan mengancam
Hindari sikap mengancam ataupun sikap yang membuat musuh Anda tak berdaya. Anda perlu ingat bahwa Anda mencoba menghindari pertengkaran besar oleh karena itu beri kesempatan kepada musuh Anda untuk mundur. Beri kelonggaran agar hubungan Anda tetap baik. Bila tiba-tiba musuh Anda bersikap manis dan ramah, Anda tidak perlu curiga. Mungkin dia berusaha untuk minta maaf dengan caranya tanpa mengorbankan harga dirinya. Sebaiknya Anda terima usahanya tersebut agar perselisihan Anda tidak meruncing.
8. Lakukan yang terbaik
Berhadapan dengan rekan sekerja yang iri hati sering membuat Anda berada dalam situasi yang sulit untuk menghindarinya. Berusahalah untuk menjadi pemain tim yang baik dan kurangi perasaan iri hati mereka sebelum timbul masalah. Antisipasi segala sesuatu yang bersifat negatif sedini mungkin.

5 Cara Harus Dilakukan Jika Dibenci Atasan

Banyak hal yang bisa membuat karier Anda mentok, salah satunya adalah hubungan dengan atasan. Hubungan yang terjalin baik, paling tidak akan membuat Anda nyaman, dan alhasil, kinerja Anda pun meningkat. Namun, bagaimana jika atasan membenci Anda? Apa yang harus Anda lakukan?

Keberhasilan bekerja di suatu perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satunya adalah faktor atasan. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa peran atasan di dalam memuluskan jalan Anda untuk meraih berbagai keberhasilan sangatlah besar. Artinya, kalau Anda mampu menjadi seseorang yang berkenan atau "dicintai" atasan, maka jalan untuk meraih berbagai keberhasilan tentunya terbuka lebar. Sebaliknya, apabila Anda dibenci oleh atasan, jalan untuk meraih keberhasilan sedikit banyak akan tertutup. Kenapa demikian? Pasalnya, salah satu peran dan fungsi atasan adalah melakukan penilaian terhadap diri Anda. Nah, kalau Anda dibenci atasan, bagaimana ia akan menilai baik prestasi kerja Anda? Ingat, dalam lingkungan kita, seringkali faktor subyektivitas masih sangat berperan dalam menilai seseorang. Lalu, apa yang sebaiknya Anda lakukan jika atasan membenci Anda?



1. CARILAH INFORMASI

Janganlah cepat percaya bahwa atasan membenci Anda. Apalagi kalau hal itu disebarluaskan oleh orang lain. Anda harus kritis apakah kabar itu benar atau sengaja dihembuskan oleh orang yang tidak senang dengan Anda. Jadi, untuk memastikan kebenaran kabar itu, Anda harus mencari informasi! Dari mana informasi itu bisa Anda peroleh? Kalau Anda berani, Anda bisa bertanya langsung kepada atasan, apakah betul ia memang membenci Anda, dan apa alasannya. Tetapi kalau Anda takut bertanya langsung, Anda bisa juga memperhatikan sikap dan perilakunya. Apakah sekarang ini perilaku atau sikapnya berbeda dengan beberapa waktu lalu. Mungkin, sebulan lalu ia masih sangat ramah, baik, dan percaya kepada Anda. Nah, apakah saat ini hal itu masih ia lakukan? Jika jawabannya ya, berarti kabar tersebut bohong. Mungkin hanya perasaan Anda saja. Namun, alau ternyata sikap dan perilaku atasan berbeda dari waktu-waktu yang lalu, bolehlah Anda mulai curiga, jangan-jangan kabar itu memang benar adanya. Meskipun seringkali Anda pun masih ragu. Kalau Anda masih ragu, cobalah tanya kepada seseorang yang dekat dengan atasan dan mintalah tolong mencarikan informasi. Jangan sekali-kali Anda mengambil kesimpulan hanya karena perasaan Anda saja. Ingat, perasaan bisa saja salah.

2. EVALUASI DIRI
Cobalah melakukan evaluasi diri, apakah ada sikap atau perilaku yang mungkin pernah membuat sakit hati atasan Anda. Seringkali, karena Anda merasa dekat dengan atasan, maka hal-hal yang bisa membuat atasan sakit hati dapat keluar tanpa Anda sadari. Maka, kalau hal itu memang pernah Anda lakukan, cepat-cepatlah bertindak proaktif, dengan mendatangi atasan dan mintalah maaf. Jangan sampai atasan Andalah yang menunjukkan kesalahan Anda. Untuk mengetahui apa kesalahan Anda sehingga Anda dibenci, tak ada salahnya kalau Anda pun bertanya kepada atasan, dengan kata-kata yang halus. Misalnya, "apa ada yang salah dari diri saya Pak?" Jangan takut atau malu mengakui bahwa Anda pernah melakukan kesalahan. Memang, yang seringkali terjadi, Anda merasa paling benar sendiri, sedangkan atasan adalah sumber kesalahan. Semakin Anda menutup diri untuk melakukan evaluasi diri, maka semakin Anda tak akan pernah tahu bahwa Anda pernah melakukan kesalahan terhadap atasan Anda.


3. JANGAN MENCOBA MENGUBAH

Janganlah sekali-kali Anda mempunyai pemikiran untuk mengubah atasan agar menyukai Anda. Yang harus Anda lakukan adalah mengubah diri Anda sendiri. Anda harus menanyakan pada diri Anda, apakah ada hal-hal yang selama ini tidak berkenan di hati atasan Anda. Mungkin saja selama ini produktivitas kerja Anda sudah mulai menurun, atau disiplin dan etika kerja yang sudah berkurang banyak. Hal-hal inilah yang seharusnya Anda kenali lebih dulu. Bisa jadi, atasan membenci Anda karena Anda sudah tak bisa lagi diandalkan sebagai. Banyak tugas atau tanggung jawab yang Anda abaikan. Atau bisa saja atasan membenci Anda karena sudah berkali-kali Anda diberi peringatan, diberi nasihat untuk mengubah sikap dan perilaku Anda, namun Anda tak mau juga mengubah diri. Sebagai bentuk kekecewan atasan, maka ia pun membenci Anda. Jadi, dalam hal ini, jangan salahkan atasan kalau harus membenci Anda. Memang, seringkali seseorang akan berubah ketika ada orang lain yang membenci dirinya. Mungkin saja atasan Anda mengambil jalan seperti ini untuk menyadarkan Anda. Oleh sebab itu, cepat-cepatlah ubah diri Anda sebelum orang lain mengubah Anda.

4. PENUHI PERMINTAANNYA
Meski pun atasan membenci Anda, jangan sekali-kali menolak tugas-tugas yang diberikan. Malahan sebaliknya, Anda harus bisa menunjukkan bahwa Anda sama sekali tidak putus asa menghadapi situasi seperti ini. Apabila ini Anda lakukan, cepat atau lambat atasan Anda pun akan berpikir bahwa Anda mampu bersikap profesional. Anda mampu memisahkan mana yang masalah pribadi dan mana masalah yang berkaitan dengan tugas Anda. Bahkan kalau perlu, kerjakan sesuatu melebihi yang diminta oleh atasan. Misalnya Anda rela bekerja lembur tanpa diminta, atau bersedia pulang lebih lambat dibandingkan rekan-rekan yang lain. Hal inilah yang akan menyentuh hati atasan, sehingga ia mulai menilai positif Anda. Anda akan dipersepsikan sebagai pribadi yang bertanggung jawab dan loyal terhadap tugas dan pekerjaan yang diberikan. Hal lain adalah, sebisa mungkin jangan menolak permintaannya, meski pun permintaan itu sulit Anda lakukan. Kerjakan sebaik dan sebisa mungkin. Siapa tahu, itu adalah cara atasan untuk mulai memperhatikan Anda lagi. Siapa tahu, itu adalah cara atasan untuk menguji Anda, apakah Anda masih setia terhadapnya atau tidak?

5. KENALI PERASAANNYA
Sebenci-bencinya atasan, jika Anda mampu memenuhi kebutuhan perasaannya, rasa benci itu cepat atau lambat akan hilang juga. Hanya saja, Anda dituntut untuk tidak mudah putus asa. Ingat, pada dasarnya, seseorang ingin diperlakukan dengan hormat. Oleh sebab itu, kalau Anda mampu memperlakukan atasan Anda secara istimewa, maka ia pun akan luluh. Persoalannya, bagaimana cara menyentuh perasaannya? Yang jelas, tunjukkan sikap dan perilaku yang membuatnya senang. Tentu, tak perlu berlebihan, cukup dengan hal-hal sederhana tetapi mengena. Beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

- Senyum, Berilah senyum setiap kali bertemu atau berpapasan dengan atasan. Mungkin sekali-dua kali, senyuman Anda tidak akan dibalas, tetapi jangan menyerah. Lakukan terus-menerus, sampai atasan mau memberikan balasan meskipun dengan senyuman yang kecut dan dipaksakan.

-Jangan Sakit hati!! Ucapkan selamat pagi ketika ia datang di kantor. Jangan pernah berharap bahwa ucapan Anda akan ia balas. Namun, Anda tetap harus melakukannya. Ingat, seseorang yang disapa lebih dahulu, biasanya akan berbunga-bunga. Mungkin untuk menjaga gengsinya, untuk beberapa kali atasan tidak akan menanggapi ucapan Anda. Tetapi, lakukanlah terus menerus, sampai ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya. Yang penting, ia sudah mau membalas sapaan Anda.
-Pamitlah setiap kali Anda mau pulang. Ini akan menunjukkan bahwa Anda menghargai keberadaannya. Ingat, orang yang dianggap oleh orang lain biasanya akan merasa bangga.

Dok. NOVA

6 Cara Bijak Dukung Atasan

Banyak pemimpin perusahaan yang mengikuti berbagai macam kursus serta belajar bagaimana cara mengatur para pegawainya. Sayangnya, cuma sedikit yang belajar bagaimana cara "mengatur" bosnya.
Berikut ini beberapa tips yang dapat diterapkan agar bos mendapatkan hasil yang lebih baik, sekaligus membantu menjalin serta mengembangkan hubungan yang lebih kuat dengan atasan Anda.
1. Memotivasi atasan 
Cari tahu, apa yang penting buat atasan dan bagaimana agar dapat membantunya. Apakah atasan lebih memusatkan perhatian pada peningkatan penjualan atau lebih tertarik pada pengembangan pemasaran internasional? Bila Anda tahu apa yang diprioritaskan atasan, hal ini akan dapat membantu Anda untuk lebih memusatkan waktu dan tenaga pada prioritas-prioritas tersebut.


2. Bekerja sebagai tim 
Atasan Anda berhadapan dengan berbagai macam tekanan dari pihak-pihak yang belum tentu Anda ketahui. Tanyakan pada atasan, cara yang bagaimana yang diinginkannya agar Anda dapat membantunya. Cari cara untuk mempermudah pekerjaan atasan dan tunjukkan padanya, Anda dapat membantunya.


3. Beri umpan balik 
Tidak mudah untuk memberikan umpan balik pada atasan. Namun walau bagaimanapun juga, Anda harus memberitahu atasan, apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak. Tentu saja sampaikan hal itu dengan cara yang sopan dan disertai bukti nyata.
Dengan cara ini Anda membantu atasan dalam mengatasi masalah yang dihadapi dan hubungan dengan atasan pun akan lebih kuat. Sebelum mencobanya, Anda dapat mempraktekkannya terlebih dahulu pada teman sekerja beberapa kali dan setelah itu sampaikan pada atasan dengan cara yang sopan.


4. Tawarkan saran, bukan keluhan. 
Bila ada masalah, temui atasan untuk memberi saran yang spesifik atas apa yang dapat Anda lakukan. Hal ini jauh lebih membantu daripada hanya menunjuk kesalahan atau mengeluh.


5. Jangan memberi kejutan 
Artinya, beritahu atasan tentang masalah-masalah yang sekiranya bakal jadi hambatan jauh sebelum persoalan tersebut berkembang. Pastikan atasan memperoleh semua informasi agar dia tidak terkejut di dalam rapat.


6. Bantu atasan 
Cari cara agar atasan tampak baik. Bantu atasan agar dapat naik ke posisi yang lebih tinggi dan dengan demikian Anda pun akan siap untuk naik ke posisi yang lebih tinggi. Memiliki hubungan kerja yang sangat baik merupakan hal yang utama demi keberhasilan Anda. Semuanya tergantung dari bagaimana Anda memperlakukan atasan. Yang jelas, bukan dengan cara menjilat!


Dok. NOVA

5 Tips Menghadapi Bos "Menyebalkan"

“Begini salah, begitu salah. Maunya Si Bos apa, sih?” Nah, daripada menggerutu apalagi buru-buru resign, intip celahnya!
Menghadapi Bos yang yang menyebalkan memang makan hati. Tak heran bila niat untuk pindah kerja seringkali muncul karenanya. Eits, sebelum memutuskan hengkang, lebih baik ikuti dulu beberapa tips Jessica Jillian Widjaja, S.Psi,.  dari Experd Consultant .


1. Kenali Kebutuhannya
Ada dua cara memahami kebutuhan atasan, yakni secara individual atau melalui rekan kerja/senior Anda. Secara individual, Anda dapat bertanya secara langsung atau mengobservasi secara cermat kebiasaannya, gayanya bekerja, penekanan hal tertentu yang dianggap penting, sampai tutur kata yang biasa dilontarkan. Atau, bisa juga melalui rekan kerja/senior, lakukan sambil mengobrol santai di luar jam kantor dengan komunikasi positif
● Gunakan kata-kata positif, yaitu dengan menghindari kata-kata negatif seperti kata “tidak“. Misalnya, “Saya tidak tahu bagaimana mengerjakannya,” atau “Saya tidak mengerti apa yang Anda inginkan.” Akan terasa positif apabila kalimat di atas menjadi, “Saya akan mencari tahu bagaimana cara mengerjakannya” dan “ Bisa jelaskan maksud Bapak/Ibu supaya saya mengerti?”
● Gunakan bahasa tubuh (ekspresi) yang positif. Pada umumnya, atasan menyukai jika Anda menunjukkan atensi dengan menjaga kontak mata. Bahasa tubuh juga menunjukkan sikap menerima, mendukung, dan menghargai.
● Berikan energi positif saat berkomunikasi. Apabila komunikasi terjalin positif, maka energi positif dengan sendirinya akan terbentuk. Apabila hal ini belum terbentuk maka anda harus memperhatikan nomor 1 dan 2.
Jika komunikasi verbal tak mungkin dilakukan karena kondisi lelah, emosi sedang tinggi, atau atasan tak berada di tempat, sampaikan pesan dalam bentuk komunikasi nonverbal (e-mail  atau memo).


2. Kelola Emosi
Dalam situasi tertekan dan rentan konflik terhadap atasan, tetaplah tenang. Sikap tenang akan membantu Anda menemukan solusi dan menanggapi sesuatu secara rasional. Alihkan pikiran Anda dengansharing  bersama teman atau melakukan kegiatan menyenangkan yang dapat mengembalikan stabilitas emosi.


3. Tetap Profesional
Apapun masalahnya, tunjukkan Anda tetap bertanggung jawab terhadap tugas dan mampu mempertahankan kualitas kerja. Etika dan etiket dalam bekerja juga mencakup bagian dari diri profesional yang harus diperhatikan. Bekerja profesional akan memperkecil kemungkinan atasan mencari-cari kesalahan.


4. Berdebat Dengan Bos
Perdebatan merupakan sesuatu yang sehat dalam suatu hubungan, termasuk hubungan atasan-anak buah. Pengertian perdebatan yang diperbolehkan, yakni lebih ke arah menyatakan pendapat yang diyakini benar disertai dengan bukti-bukti yang mendukung. Sebagai anak buah yang baik, Anda harus berupaya tetap menjaga imej atasan, sehingga perdebatan yang terjadi jangan sampai bersifat menjatuhkan atau mempermalukan. Perhatikan sikap dan tutur kata saat berdebat dengan atasan, agar apa yang kita perdebatkan memberikan win-win solution dan bersifat membangun (konstruktif).


5. Bos Anda yang Mana?
Cari tahu tipe apa atasan Anda dan ubah kekesalan menjadi solusi!


Tipe Dominan 
1. Suka mengontrol orang lain. 
2. Meminta segala sesuatunya selesai sesegera mungkin.
3. To the point saat berbicara. 
4. Fokus pada pencapaian keberhasilan target.
5. Hampir selalu berpikir logis.
6. Hebat mengatur anak buah. 
7. Cepat menentukan keputusan.
8. Berani menghadapi tantangan, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.
Anda harus...  Karena akan kewalahan bekerja bersamanya (deadline ketat, memberikan tugas-tugas yang banyak, ambisius, workacholic, bossy, dan selalu ingin menang), Anda harus pintar-pintar mengatur jadwal agar tepat waktu. Juga, jangan ragu mengajukan ide, tawarkan bantuan selama Anda masih bisa.


Tipe Persuasif 
1. Optimis.
2. Senang bersosialisasi.
3. Pandai mengemas kata-kata untuk memengaruhi orang lain.
4. Cenderung bersikap subjektif.
5. Mementingkan suasana yang menyenangkan dalam bekerja
6. Suka bercerita/berbicara panjang lebar.
7. Senang jika ada orang yang memberikan penghargaan/pujian atas apa yang dilakukannya, mendengar ucapannya, dan membantu mengubah ide-ide dalam bentuk rencana tindakan.
8. Cenderung cerewet, gila pujian, kadang manipulatif, suka pamer, dan kurang dewasa.


Anda harus...Bagi bos macam ini, hubungan pribadi dengannya sangatlah penting. Mau tak mau, Anda memang harus mendekatkan diri dengannya. Untungnya tipe atasan ini tidak alergi dengan kritik, asal disampaikan dengan halus. Baginya yang terpenting adalah tim yang solid.
Tipe Pendukung 
1. Kerap konsisten dengan kebijakan yang sudah diambil (suportif).
2. Memiliki emosi yang stabil (sabar, toleran).
3. Memiliki empati yang tinggi sehingga tak segan mendukung.
4. Senang dengan hal-hal yang familiar.
5. Suka menjadi bagian dari suatu hal/keikutsertaan.
6. Sulit menerima perubahan dan kurang inisiatif.


Anda harus...Tak perlu takut bernegoisasi dan berdebat, asalkan alasan yang diajukan masuk akal, atasan macam ini pasti tak keberatan.
Tipe Disiplin 
1. Suka mengikuti aturan dan prosedur yang berlaku dan detail.
2. Penuh pertimbangan/kehati-hatian dan menyukai mem­buat perencanaan/strategi


Anda harus...Berhati-hati dalam beberapa hal, kadang mereka sangat kaku, suka mengkritik, terlalu perfeksionis, dan monoton.


Ester Sondang

7 "Obat Mujarab“ Perbaiki Sikap

1. Mengamati apakah ada kesesuaian antara perilaku pada situasi saat bekerja dan saat tidak bekerja. Jika tak ada kesesuaian, perlu dikembangkan.
2. Meneliti apakah perilaku pada pekerjaan merupakan contoh nilai perusahaan dan nilai pribadinya.
3. Meminta pegawai untuk jujur memberi umpan balik pada gaya pimpinannya. Jika Anda yang menggencet, tampaknya tak seorangpun yang akan berkata jujur karena mereka pasti takut pada Anda.
4. Jika senior manajer melihat manajer lain memperlihatkan perilaku menggencet, ia harus memberi saran dan membantu mengubah perilaku ini secara positif.
5. Berhenti menghindar dari masalah-masalah sulit. Sebaliknya, hadapi! Jika sejak awal Anda berani menghadapi masalah, selanjutnya akan lebih mudah mengatasinya. Akan lebih baik jika didukung oleh HRD atau manajer lain yang bisa memberi ide bermanfaat dalam mengelola situasi.
6. Bersikap sopan terhadap siapapun, bahkan jika awalnya tak timbul secara alami. Namun, seiring berjalannya waktu, sikap baik ini akan jadi kebiasaan.
7. Katakan sesungguhnya, atau jika merasa tak pantas berterus terang, katakan Anda tak bisa memberi komentar, dan ini membuat hidup jadi lebih mudah.
Sebagian besar „pengobatan" ini terpusat pada meluruskan sikap dan nilai-nilai pribadi di tempat kerja atau bukan. Semua tergantung pada direksi perusahaan dalam menganalisa sikap buruk ini. Mereka pun harus berani berterus terang jika melihat sikap buruk ini terjadi pada kolega atau bawahannya.
Sikap ini menjadi wajar bila diterima. Jika senior manajer terlalu sering menghindar dalam mengkonfrontasi, sikap buruk ini akan menjalar ke semua tingkatan dalam organisasi. Dan pengobatan ini akan tampak sulit atau percuma saja.
Namun, jika Anda mengikutinya, hidup akan jadi lebih mudah dan tak bikin stres. Bekerja harus menyenangkan, membuat semangat dan berkomitmen mencapai sasaran umum. Ini tanggung jawab pimpinan dalam menciptakan tempat kerja yang produktif. Setiap pemimpin perusahaan harus merefleksikan perilakunya untuk memastikan, sikapnya sesuai dengan nilai pribadi dan perusahaannya.



Aline

4 Tipe Rekan Kerja Menyebalkan

Ada beberapa tipe rekan kerja yang Anda hadapi sehari-hari di kantor. Berikut ini beberapa jenis rekan sekerja yang sebaiknya dihindari, serta tips cara menghadapi mereka.


1. Teman yang bermuka dua
Berhati-hatilah menghadapi tipe rekan sekerja yang bermuka dua. Bahkan, bila tidak ada yang perlu dibicarakan sebaiknya Anda diam saja. Teman dengan tipe seperti ini senang memakai nama orang lain dalam membicarakan kejelekan orang dan membicarakan Anda di belakang Anda. Karena sikap dan kata-katanya manis, Anda akan merasa dia merupakan sahabat yang bisa dipercaya. Padahal, bila Anda tidak ada, dia akan membicarakan Anda kepada rekan kerja yang lain. Oleh karena itu, bila dia mendekati Anda untuk mulai bergosip, sebaiknya sambil tersenyum angkat telepon dan tunjukkan kepadanya bahwa Anda sedang sibuk. Sesudah beberapa kali sikap ini Anda perlihatkan kepadanya, percayalah dia tidak tertarik untuk mendekati lagi. Dia memerlukan seseorang yang tertarik dengan ceritanya, seseorang yang memberikan respons yang antusias. Oleh karena itu jangan perlihatkan sikap antusias atau tertarik dengan apa yang diceritakannya kepada Anda. Bila terjebak berada dalam satu lift dengannya, jangan sampai Anda mengekspresikan kekesalan Anda dengan kata-kata yang kasar atau jangan terpancing dengan omongannya.


2. Teman yang berpikiran negatif
Sebaik apapun ide yang Anda miliki pasti dicela olehnya dan dengan senang hati akan disampaikannya kepada atasan. Rekan sekerja yang berpandangan negatif biasanya tidak memiliki ide-ide yang cemerlang. Karenanya, agar dapat ikut serta di dalam pembicaraan, dia melecehkan pendapat orang lain. Bila Anda memperoleh reward akhir tahun, dia akan memperbincangkannya. Anda tidak perlu berargumentasi dengannya karena akan membahayakan diri Anda. Jangan beri kesempatan padanya untuk menemukan kekurangan Anda. Usahakan Anda dapat mengatasi masalah yang Anda hadapi dan mengimbanginya dengan solusi yang positif.


3. Teman yang suka memanfaatkan
Berbeda dengan rekan sekerja yang berpikiran negatif, rekan sekerja yang sifatnya pemanfaat dapat melihat ide cemerlang Anda, dan memanfaatkannya. Mendapatkan bantuan dari rekan sekerja tampaknya menyenangkan, tapi Anda harus berhati-hati. Bila tidak keberatan untuk dibantu olehnya Anda dapat berubah dari orang yang bertanggung jawab atas proyek yang Anda lakukan menjadi orang yang terbingung-bingung karena ide Anda diambil olehnya. Tipe rekan sekerja yang demikian tidak dapat menahan dirinya dan selalu ingin terlibat dalam setiap pekerjaan yang dilakukan oleh rekan sekerja lainnya. Ada dua bahaya bila Anda membiarkannya ikut terlibat dengan proyek yang Anda lakukan: pertama, Anda berisiko melihat ide Anda berubah seratus persen. Kedua, melalui akal bulusnya akan tampak seolah-olah bukan Anda yang mengerjakan proyek Anda. Satu-satunya cara dalam menjawab tawaran bantuan darinya adalah dengan mengatakan, “Terima kasih, saya dapat mengerjakannya sendiri.” Dan tidak peduli seberapa menggoda tawarannya, Anda harus kuat. Bantuannya dapat membahayakan reputasi Anda.


4. Rekan sekerja yang posesif
Dia sangat licik karena dia tidak menyabotase ide Anda, bahkan tidak menyusun siasat ataupun memanipulasi sesuatu hal. Dia hanya menyukai Anda. Tetapi, mengapa teman seperti ini berbahaya? Memang menyenangkan bila kita memiliki teman yang menyukai kita. Tetapi sebaiknya Anda berhati-hati dan tidak terlalu dekat dengan teman tipe seperti ini. Tipe rekan sekerja yang demikian selalu ingin bersama-sama kemanapun Anda pergi, baik untuk makan siang ataupun untuk berbelanja sesudah pulang kantor dan berakhir pekan. Bila Anda menikmati kebersamaan dengannya, tidak masalah. Tetapi masalahnya, bila dia sudah begitu lengket dengan Anda dan tiba-tiba keadaan berubah, misalnya Anda mendapatkan kekasih, dia akan sangat cemburu dan tidak dapat menerima perubahan tersebut begitu saja. Bagaimana mungkin setiap hari Anda dapat menghindari pandangan matanya yang penuh kemarahan padahal mejanya tepat berada di sebelah meja kerja? Tipe-tipe yang disebutkan di atas hanyalah sebagian kecil dari tipe rekan sekerja yang dapat dijumpai di tempat kerja. Masih banyak orang yang harus dihadapi di tempat kerja Anda. Yang perlu diingat hanyalah menyadari bagaimana rekan sekerja dapat memanfaatkan Anda dan bagaimana rekan sekerja yang lain dapat mempersulit hidup Anda, sekaligus mengetahui bagaimana menghadapi mereka. Anda pasti akan baik-baik saja. Ingat, kuncinya adalah kuat dan selalu peka dan waspada.


Aline

8 Tips Nge-Tweet Aman di Kantor

Apakah kantor Anda membolehkan karyawannya ber-Facebook atau berkicau di Twitter? Jika ya, Anda sebaiknya tahu rambu-rambunya supaya status atau kicauan Anda tak berdampak negatif terhadap karier.
Situs jejaring sosial, seperti Facebook ataupun microblog  seperti Twitter kini telah menjadi bagian dari hidup sebagian besar dari kita. Tak hanya di rumah, di kantor pun situs-situs semacam ini menjadi alat komunikasi yang dianggap cukup efektif antar-karyawan, meskipun tentu ada aturan tertentu yang harus ditaati karyawan.
Sebuah studi di Amerika menunjukkan bahwa lebih dari 50 persen perusahaan terbesar di Amerika khawatir terhadap kebiasaan para pekerjanya mengunjungi situs jejaring sosial saat jam kerja, sehingga mereka melarangnya. Namun, ternyata, penelitian lain menunjukkan hasil sebaliknya. Jika dikelola dengan baik, aktif di Facebook atau Twitter ternyata juga bisa berdampak positif, lho. Misalnya, informasi bisa cepat disampaikan dan ditanggapi oleh banyak orang (karyawan) sekaligus.   
Namun, banyak juga hal atau aturan yang harus diperhatikan ketika karyawan aktif di situs jejaring sosial tersebut. Salah satu dan yang paling penting adalah, apakah perusahaan tempat Anda bekerja membolehkan karyawannya untuk membuka dan aktif di situs-situs tersebut? Ingat, Anda tak bisa nekat membukanya jika ternyata aturan perusahaan melarang karyawan untuk ber-Facebook atau nge-tweet . Salah-salah, Anda kena sanksi. Banyak contoh yang menunjukkan betapa comment  di Facebook  atau kicauan di Twitter bisa berakibat fatal, dari putusnya hubungan pertemanan sampai yang berujung ke pengadilan.
Bagaimana agar Anda “aman” dari kesalahan fatal yang bisa berakibat buruk terhadap karier Anda? Yang pertama, jauhkan urusan kantor dari aktivitas nge-tweet  atau Facebook Anda. Jika tak perlu-perlu amat, tak perlulah mengumbar komentar, apalagi yang bernada negatif, mengenai hal-hal yang terjadi di kantor ataupun tentang seseorang di kantor Anda. Yang juga perlu adalah Anda harus mengasah kepekaan. Jika bos Anda, misalnya, sangat membenci karyawan yang hobi telat, sebaiknya jangan “memamerkan” keahlian Anda datang telat di status Anda.
Apalagi yang harus Anda perhatikan saat ber-Facebook atau nge-Tweet, berikut beberapa tips di antaranya:


1. Taati aturan perusahaan
Setiap perusahaan memiliki aturan yang harus ditaati para karyawannya, tentu beserta sanksinya. Jadi, selama Anda masih ingin bekerja di perusahaan tersebut, sebaiknya ketahui dan ikuti aturan yang berlaku di kantor, termasuk tentang boleh-tidaknya aktif di situs jejaring sosial seperti Facebook, atau microblog  seperti Twitter. Rasanya sih, hampir sebagian besar perusahaan kini membolehkan karyawannya untuk membuka Facebook atau Twitter, ya. Pasalnya, sebuah riset menunjukkan bahwa dengan aktif di situs jejaring sosial, kemampuan dasar para pekerja justru akan meningkat.


2. Pisahkan urusan pribadi dan urusan kantor
Ini penting, karena akan repot rasanya jika Anda mencampur-adukkan urusan kantor dengan urusan pribadi di jejaring sosial. Sebaiknya jangan membawa urusan pekerjaan ke dalam status Anda. Ingat, biasanya kita berteman dengan semua orang, termasuk atasan di dalam Facebook. Akan runyam bila Anda meng-update  status yang berhubungan dengan kebijakan atasan/perusahaan, bukan? Tak ada salahnya Anda pelajari juga ketentuan yang mengatur akses terhadap situs jejaring sosial selengkapnya.


3. Jangan lupa log-off
Jangan pernah meninggalkan komputer saat akun aktif, terlebih lagi di situs jejaring sosial. Apalagi menyimpan password  akun jejaring sosial di komputer kantor. Bisa saja teman atau orang lain yang tidak bertanggung jawab menuliskan sesuatu pada status Anda, bisa-bisa memancing respon tertentu yang tidak menguntungkan Anda. Usahakan juga agar password  untuk akun pekerjaan dan situs jejaring sosial Anda berbeda. Jika password terbongkar, wah Anda sendiri yang repot.


4. Jauhi urusan politik
Hindari komentar bernada politis atau yang berbau SARA. Anda tak pernah tahu bagaimana pandangan politik bos Anda, bukan? Bisa jadi, ternyata ia punya pandangan politik yang berlawanan dengan pandangan politik Anda, dan sangat tidak suka comment Anda. Hal yang sama juga berlaku untuk urusan politik kantor. Jika terjadi kisruh antara Si A dengan bos, atau malah pada diri Anda, hindari mengumbarnya di dunia maya. 


5. Hindari mengeluh soal pekerjaan
Seorang supervisor  mendadak dipindahtugaskan ke bagian yang kurang nyaman buatnya. Selidik punya selidik, ternyata pemindahannya itu berkaitan dengan komentarnya di Facebook yang mengeluhkan kondisi di divisi tempatnya bekerja. Jadi, sekali lagi, tak perlulah "curhat" soal kerjaan di Facebook atau Twitter. Kalau mau curhat, langsung tatap muka saja dengan orang yang Anda percaya.


6. Update saat makan siang
Pasti ada di antara Anda yang sangat hobi meng-update status, bukan? Tapi, sebaiknya jangan terlalu sering meng-update  status atau tweet . Atasan pasti akan bertanya-tanya, apa sebetulnya yang Anda lakukan sehingga setiap 10 menit sekali meng-update  status? Kapan bekerjanya? Meng-update  status sehari sekali rasanya cukup, misalnya pada saat makan siang, di mana jam-jam tersebut memang waktu bebas Anda.


7. Hati-hati membuat komen
Banyak hal sepele yang ternyata bisa berbuntut panjang manakala di-share  ke jejaring sosial. Jadi, ada baiknya Anda tak merespon status orang lain sembarangan. Menjadi pembaca setia rasanya cukup, ketimbang menerima risiko akibat komen Anda yang “salah.” Ingat, Twitter dan Facebook bukanlah warung kopi, di mana Anda bisa mengeluarkan komentar seenak hati. Ya, sekalipun Anda berdalih jika situs-situs tadi adalah tempat “nyampah“ Anda. Masih banyak orang lain yang hidup di jejaring Anda dan mengamati setiap post  yang Anda posting. Jangan sampai orang salah menilai Anda.


8. Hati-hati saat posting
Pertimbangkan matang-matang setiap kali Anda hendak memposting gambar atau komen. Pastikan juga siapa saja yang bisa mengakses apa yang Anda posting, karena mungkin saja apa yang Anda pajang menjadi konsumsi publik. Mungkin saja baik untuk saat ini, tapi bisa jadi buruk di kemudian hari. Berhati-hatilah juga saat berbagi gambar atau video. Jangan posting gambar dan video yang sifatnya pribadi kalau tak mau rugi di kemudian hari.


Hasto Prianggoro/berbagai sumber

9 Tips Sukses Menabung

Bagi sebagian orang, bahkan bagi yang berpenghasilan tinggi sekalipun, menabung bisa jadi tergolong gampang-gampang susah dilakukan. Sebab, berhasil atau tidaknya menabung bukan tergantung dari besarnya penghasilan, melainkan dari kedisiplinan yang selalu terjaga. Bila Anda termasuk sulit menabung, tips berikut ini bisa Anda coba.
1.   Tentukan terlebih dulu tujuan menabung, agar Anda memiliki target tertentu yang harus dicapai. Dengan demikian, Anda akan lebih bersemangat menabung.
2.   Alokasikan dana yang akan ditabung segera setelah gajian, bukan di akhir bulan, untuk mencegah uang habis sebelum sempat disisihkan.
3.   Pisahkan rekening untuk menabung dan rekening pemasukan Anda. Dengan demikian, keuangan lebih mudah dikontrol setiap bulan.
4.   Berapa pun penghasilan Anda, biasakan untuk menabung, sehingga Anda akan terbiasa melakukannya. Penghasilan yang kecil bukan alasan Anda tak bisa menabung.
5.   Biasakan melakukan pengeluaran dengan jumlah lebih sedikit daripada penghasilan Anda, agar tidak tekor di akhir bulan.
6.   Buatlah daftar anggaran selama satu bulan baik yang rutin maupun tidak, sehingga tidak ada uang yang habis tanpa juntrungan.
7.   Jangan lapar mata. Bila Anda memang gampang terpancing untuk berbelanja, jauhi hal-hal atau tempat yang bisa membuat Anda menghabiskan uang di luar rencana anggaran, misalnya mal.
8.   Bila penghasilan Anda bertambah, naikkan pula dana yang akan ditabung.
9.   Tak ada kata terlambat untuk menabung. Mulailah menabung sedini mungkin, sehingga hasil yang didapat juga lebih maksimal.   

Hasuna

Kamis, 15 Desember 2011

6 Kesalahan Keuangan Wirausaha Muda

Sebagai pengusaha muda, wajar jika Anda masih dalam tahap belajar dan membuat kesalahan. Namun, siapa pun pasti tak akan senang apabila kesalahan tersebut menyangkut masalah keuangan. Mencampuradukkan dana pribadi dan bisnis, misalnya, kerap dilakukan paraentrepreneur muda. Masalah yang bisa ditimbulkan, misalnya, Anda juga tidak dapat menyediakan catatan pengeluaran yang jelas ketika dilakukan audit.
"Banyak wirausaha sukses yang tersita oleh bisnis yang sedang dilakukan sehingga beberapa prioritas keuangan pribadi mereka terabaikan," ujar Eric Johnson, senior client strategist di Signature, firma manajemen kekayaan yang berbasis di Norfolk, Virginia, Amerika Serikat. Menurut dia, ada enam kesalahan pengelolaan keuangan yang biasa dilakukan wirausaha muda. Anda perlu tahu agar dapat menemukan strategi untuk menghindarinya.



1. "Over"-investasi

Enggak asyik, dong, kalau bisnisnya di bidang lifestyle, tetapi menyewa kantor atau ruang usahanya di ruko? Boleh saja Anda berpikir begitu. Agar terkesan profesional, memang banyak wirausaha muda yang rela mengorek tabungannya, misalnya untuk menyewa kantor di tempat yang hip atau membeli peralatan atau perabotan mewah. Namun, menghabiskan terlalu banyak untuk pengeluaran yang tidak penting-penting amat bisa mengikis keuangan pribadi Anda dengan cepat, lhoAlexa von Tobel, pendiri dan CEO LearnVest.com, mengatakan, tabungan atau modal bisa habis sebelum Anda sempat memproduksi barang atau jasa untuk dijual. "Gunakan setiap uang yang Anda miliki untuk menciptakan produk yang baik, dan tunjukkan kepada pengguna. Kalau produk Anda tidak bagus, tidak ada harapan untuk maju," katanya.



2. Tidak menggaji diri sendiri

Pemilik bisnis muda cenderung menanamkan semua sumber daya ke dalam bisnis tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Sulit jika bisnis harus membiayai kehidupan pribadi Anda. Seperti karyawan yang lain, berikan gaji secukupnya untuk Anda sendiri untuk memastikan keuangan pribadi Anda tetap sehat dan terpisah dari bisnis. Namun, jangan mentang-mentang Anda pemilik bisnis ini lantas memberi gaji  tinggi untuk Anda. Anda harus menyediakan cukup banyak dana untuk bisnis Anda supaya tetap dapat beroperasi dalam masa-masa sulit.



3. Tidak mempertimbangkan kemungkinan terburuk

Kalangan muda sering berpikir bahwa mereka sangat berpotensi dan tak mungkin gagal. Akan tetapi, siapa pun bisa gagal, dan Anda perlu membuat rencana setelah memprediksi kemungkinan terburuk. Buat sebuah rencana pengganti dan beberapa bentuk asuransi untuk mendukung bisnis ketika Anda tak mampu menjalankannya. Jika Anda mempunyai rekanan dan bisnis Anda tidak mudah dijual, Eric Johnson menyarankan untuk membuat suatu perjanjian jual-beli. Perjanjian ini mengatur apa yang terjadi jika salah satu pemilik bisnis meninggal, dan biasanya mencakup komponen asuransi yang menyediakan dana apabila sewaktu-waktu terjadi sesuatu pada pemilik bisnis.



4. Mencampur aset bisnis dan pribadi

Entah itu menjamin pinjaman secara pribadi atau meminta orangtua Anda membeli rumah kedua, meningkatkan aset pribadi untuk tujuan bisnis tidak akan baik bagi kondisi keuangan pribadi. Mengapa demikian? Bayangkan, ketika bisnis Anda menurun, para kreditor bisa saja mengejar aset pribadi Anda. "Anda seharusnya hanya menggunakan jaminan dari bisnis. Jadi, ketika bisnis Anda merosot, Anda tidak bertanggung jawab secara pribadi terhadap pinjaman tersebut," kata Lynn Mayabb, senior managing advisor BKD Wealth Advisors di Kansas City.



5. Menggunakan kartu kredit pribadi untuk tujuan bisnis

Akan sangat berisiko jika Anda bergantung pada kartu kredit pribadi untuk membiayai usaha ketika bank tidak bersedia memberikan dana untuk Anda. Anda bisa saja tergoda untuk men-charge hal-hal yang tidak seharusnya pada kartu kredit pribadi. Mencampur tagihan bisnis dan pribadi bisa menimbulkan kekacauan organisasi. Jika bisnis Anda diaudit, Anda tentu harus menyediakan catatan pengeluaran bisnis paling tidak tiga tahun ke belakang. Mampukah Anda menyediakannya? Sudah pasti tidak. Jadi, sebaiknya Anda membuat kartu kredit khusus untuk urusan bisnis, dan hanya digunakan untuk pengeluaran bisnis yang penting.



6. "Merampok" kas perusahaan

Ketika berhasil melakukan penjualan yang hebat dalam dua atau tiga bulan, pengusaha muda biasanya akan menjadi kelewat percaya diri, begitu menurut Mayabb. Pengusaha yang belum berpengalaman kemudian akan mulai menghabiskan arus kas perusahaan tanpa pandang bulu. Ambil contoh, ketika membutuhkan mobil operasional, mereka akan membeli mobil-mobil terbaik (dalam arti dengan merek terbaik dan harga yang lebih mahal), lalu menyadari bahwa pada beberapa bulan berikutnya ternyata tidak terjadi penjualan yang berarti.  



Sumber: Entrepreneur

9 Langkah Memulai Wirausaha

Wirausaha menjadi salah satu upaya yang sering dilakukan banyak karyawan untuk terlepas dari berbagai rutinitas kantoran. Sebagian alasannya karena didorong kebutuhan ekonomi sekaligus agar dapat mengontrol pendapatannya sendiri.
"Penurunan ekonomi secara tidak langsung memaksa orang untuk berpikir lebih kreatif tentang cara mendapatkan uang, dan umumnya orang juga mempertanyakan keamanan pekerjaan mereka sekarang dibanding sebelumnya," ungkap Chris Guillebeau, penulis buku The Art of Non-Conformity.
Menurut Tory Johnson, seorang reporter televisi dan pemilik bisnis, ia memutuskan untuk berwirausaha setelah mengambil pensiun dini dari pekerjaan sebelumnya. "Rasa aman dalam penghasilan sebenarnya diketahui ketika Anda tahu kalau sumber penghasilan Anda tak hanya bergantung pada satu sumber saja, atau tergantung pada orang yang setiap saat bisa saja memecat Anda," tukasnya. Namun sebelum berwirausaha, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk mendapatkan ide bisnis.


1. Minat. "Pikirkan apa yang benar-benar Anda ingin lakukan. Mungkin sesuatu yang biasa dikerjakan di kantor Anda dulu, meskipun Anda tak menyukainya, atau justru sangat Anda sukai. Apapun bentuknya, hal tersebut bisa mengajarkan baik-buruk yang mungkin akan muncul saat memulai bisnis," ungkap Tara Gentile, konsultan wirausaha.



Guillebeau juga menyarankan untuk mendengarkan saran dari orang-orang terdekat, dan berkonsultasi dengan konsultan bisnis. Kemudian mulailah untuk membuat blog yang menjelaskan tentang bisnis Anda, membuka rekening khusus untuk bisnis, lalu mulai berbisnis. 


2. Motivasi. Selain uang untuk menambah penghasilan, sebaiknya cari motivasi lain Anda untuk mulai berbisnis. Menurut Johnson, motivasi selain tambahan penghasilan akan membantu Anda agar tak hanya berorientasi pada uang semata. "Bagi saya, ini adalah suatu bentuk perlindungan dan upaya untuk menghindarkan keluarga saya dari pengalaman buruk tentang banyaknya slip tagihan yang datang," tukas Johnson.



Motivasi lain yang bisa menjadi alasan untuk berwirausaha adalah mungkin untuk membantu biaya pengobatan salah satu anggota keluarga. Mengetahui motivasi lain selain uang juga akan membuat Anda lebih mudah bertahan untuk melewati segala tantangan yang ada. 


3. Side job. Pamela Slim, penulis buku Escape from Cubicle Nation, menggunakan  istilah "sampingan" untuk menunjuk cara menghasilkan uang dengan berwirausaha. Terkadang orang selalu takut untuk memulai segala sesuatunya dari bawah, karena akan mempertaruhkan semua yang sudah didapatkan dari pekerjaan tetap. Memiliki pekerjaan sampingan tak hanya membuat Anda menjalankan sebuah bisnis baru dengan resiko kecil, tapi juga sekaligus sebagai rencana cadangan jika suatu saat Anda bermasalah dengan pekerjaan Anda.



"Para pekerja pun akan berpikir tentang kestabilan ekonomi perusahaan, meski tak benar-benar hancur, Anda tahu bukan hal yang baik jika hanya tergantung pada perusahaan," ungkapnya. Menurut survei yang dilakukan Elance, sebuah perusahaan freelance market, tiga dari 10 responden tetap bekerja di perusahaan sembari berwirausaha.



4. Jangan menjual barang yang sama. Slim mengingatkan bahwa dalam berwirausaha, Anda sebaiknya tidak menjual produk yang sejenis dengan yang diproduksi oleh perusahaan Anda. Karena bisa saja, perusahaan Anda akan mengklaim berbagai produk yang Anda ciptakan saat Anda masih berada dalam jam kerja perusahaan.



5. Manfaatkan teknologi. Twitter, blog, Facebook, dan berbagai jejaring sosial lainnya merupakan salah satu cara yang paling mudah untuk membangun sebuah bisnis kecil-kecilan. "Ini sangat mudah dilakukan siapa saja, dan sangat mudah membuat website untuk menjual produk Anda," ungkap Slim. Jika dulu, lokasi usaha merupakan salah satu halangan untuk menjual berbagai produk usaha Anda, maka kini Anda bisa membuat sebuah website di kota asal Anda, dan menjual produk Anda ke seluruh dunia. 



6. Tambah teman. Sekarang ini, pemasaran melalui blog dan internet seringkali berfokus pada pentingnya membangun satu merek untuk menggalang hubungan yang erat antara Anda dan pelanggan. Namun, Gentile mengatakan hal tersebut bukanlah menjadi tujuan utama. Website yang dikelolanya setiap hari dikunjungi 1.000 orang, dimana jumlah ini lebih rendah dibandingkan dengan blog-blog para bintang ternama. Namun, yang paling penting adalah berapa jumlah uang yang bisa Anda dapatkan dari pengunjung blog tersebut.



7. Berhenti berencana dan bergeraklah. Salah satu kesalahan yang sering dilakukan untuk menjadi seorang wirausaha adalah terlalu lama berpikir dan menyusun rencana. "Sebagian besar orang sulit menemukan produk apa yang akan dijual. Mereka terlalu banyak berpikir detail, padahal yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulainya," ungkap Slim. Terkadang, banyak orang takut untuk memulai usaha karena mereka khawatir akan gagal dan ditolak pasar.



8. Optimis. "Kesuksesan tidak akan datang dengan instan, tapi butuh proses. Namun, jika Anda memulainya dengan rasa pesimis, semuanya akan gagal," ungkap Johnson. Inilah sebabnya keyakinan untuk berhasil dalam bisnis adalah hal yang sangat penting, karena berguna untuk memacu semangat Anda menghadapi setiap tantangan.



9. Menikmati hasil kerja keras Anda. Ada rasa puas dan kebanggaan tersendiri yang bisa Anda capai ketika Anda bisa menjalankan semua bisnis Anda dengan jerih payah Anda sendiri. Tak ada salahnya ketika bisnis Anda sudah membuahkan hasil, Anda sedikit menikmati liburan. Anda juga lebih bisa menikmati pekerjaan Anda dengan cara mengatur sendiri semua bisnis Anda dibandingkan saat Anda menjadi pekerja.



Sumber: Yahoo! Finance